Home » Activities, PCR » Nasya dan Mamanya, Mahasiswa dan Ruang 328

Nasya dari hari ke hari. Semakin BeratHai, selamat malam. Hari ini Saya akan bercerita tentang beberapa aktifitas yang Saya lalui selama bulan Ramadhan ini. Aktifitas ini biasa Saya lakukan setelah jadwal kantor. Setelah jam 16.00 sore. Saya tetap stay di kampus untuk melakukan beberapa aktifitas yang bermanfaat. Kegiatan ini juga dihadiri oleh beberapa orang mahasiswa, mulai dari mahasiswa bimbingan Proyek Akhir, bukan bimbingan Proyek Akhir dan ‘beberapa orang mahasiswa’ yang berkumpul untuk tujuan tertentu.

Sejak awal Mei 2014 Saya harus ‘menjalani’ hidup sebagai seorang single fighter di kota Pekanbaru yang terkenal keras ini. Ya, 2 Mei 2014 lalu, Saya resmi menjadi seorang ayah dari bayi perempuan mungil. Bayi itu lahir dengan berat 2.3 Kg. Begitu kecil dan imut. Karena jadwal kelahiran si mungil memang diluar perencanaan kami. Si mungil sudah cukup umur, tetapi lahir dengan berat yang kurang dari 2.5 Kg. Secara keseluruhan tidak ada masalah dengan bayi kami. Semuanya sehat dan kami menyambutnya dengan penuh suka cita. Mengingat perjuangan yang kami ‘lalui’ untuk mendapatkan si mungil ini. Si mungil kami beri nama Nasya Iqlima Ihsan. Nama yang kami telah kami sepakati sejak sebelum lahir. Panggilannya Nasya, cucu kelima dari Orang Tua Saya dan cucu kedua dari Papa dan Mama mertua Saya.

Sejak Nasya lahir, Saya dan istri sudah bersepakat untuk ‘berpisah jarak’ sementara. Istri Saya tinggal di kota Jambi hingga menghabiskan masa cutinya. InshaAllah akhir lebaran ini. Saya tetap harus kembali ke Pekanbaru untuk bekerja. Setidaknya kami akan terpisah selama 2,5 Bulan.

Cukup sepi dan kesepian. Hampir setiap hari berkomunikasi dengan istri melalui layanan messenger di smartphone kami. Istri selalu mengirimkan foto terbaru nasya. Hingga akhirnya Saya sadar, bahwa nasya tidak mungil lagi. Hingga tulisan ini Saya buat, berat badan Nasya sudah mencapai 4,7 Kg. Saat lahir, hidung nasya menjadi sangat dominan karena pipinya yang kurus, namun sekarang hidung itu hampir tidak terlihat. Tenggelam seiring dengan cubby-nya pipi Nasya.

Nasya dari hari ke hari. Semakin Berat

Awal Ramadahan, Nasya, Istri Saya dan Papa Mama mertua mengunjungi Saya ke Kota Pekanbaru. Karena Saya tidak memiliki waktu yang cukup untuk mengunjungi Nasya. Saya sangat senang dan bersuka cita. Bisa berkumpul dengan Istri dan Anak. Meskipun hanya sementara, tapi itu cukup untuk melepas kerinduan kepada mereka berdua. Nasya dan Istri Saya dan Papa Mama, kembali ke Jambi saat puasa ketiga. Sejak saat itu, cat rumah kembali berubah menjadi kelam dan suram. Keceriaan pergi bersama Nasya dan Mamanya. Tetapi, hidup harus tetap dijalani.

Dalam pikiran Saya, Saya harus memanfaatkan waktu semkasimal mungkin. Jika Saya beraktifitas, maka Saya akan melewatkan waktu-waktu kesendirian, lebih cepat dan tidak akan terasa. Hingga waktu berkumpul datang. Tidak direncanakan dan tidak dipersiapkan. Beberapa orang mahasiswa yang tahun lalu pernah ‘bekerja sama’ dengan Saya datang. Mereka datang dalam rangka mempersiapkan diri untuk menghadapi sebuah lomba yang akan dilaksanakan Oktober ini.

Bak gayung bersambut, Saya menyanggupi permintaan mereka dan mengalokasikan waktu untuk ‘melihat-lihat’ persiapan yang mereka lakukan. Saat ini yang datang tidak dua atau tiga orang, mereka datang jumlah yang lebih banyak, Sembilan orang. Mereka berasal dari kelas dan program studi yang beragam.

Sejak hari itu, mereka bersepakat untuk mulai berkumpul secara lebih intens. Biasanya mereka berkumpul setiap sore, setelah sholat ashar. Saya tidak ikut campur tentang teknis berkumpul mereka. Mereka bebas menentukan apakah akan hadir atau tidak. Sebab kegiatan dan tugas perkuliahan jauh lebih penting jika dibandingkan dengan pertemuan yang dilakukan ini. Jadi semua keputusan ditangan mereka dan Saya tidak melakukan intervensi jika tidak hadir. Semuanya dilakukan atas kesadaran sendiri.

Tempat berkumpul. Ruangan 328 merupakan ruangan Saya dan Pak Fadhly saat baru bergabung dengan PCR. Sejak kuartal keempat tahun 2013, kami pindah ke ruangan 327. Ruangan Dosen Program Studi Teknik Infromatika. Sejak kami tinggalkan, ruangan itu dimanfaatkan untuk berbagai keperluan (dalam pengamatan Saya). Termasuk Tim ini, mereka memanfaatkan ruangan 328 dalam pengawasan dan tanggung jawab Saya. Mereka cukup terbantu dengan karpet hijau yang terbentang di ruangan itu. Semua mahasiswa bisa mendapatkan tempat dengan duduk lesehan di atas karpet (Selanjutnya Tim ini Saya namai dengan nama Tim DMIS). Selain untuk tempat berkumpul tim DMIS, Saya juga menggunakan ruangan itu untuk membimbing mahasiswa-mahasiswa yang sedang melaksanakan PA. Sesekali Saya juga didatangi oleh beberapa orang mahasiswa yang membutuhkan bantuan terkait PA mereka. Jadi hampir beberapa hari ruangan itu dipenuhi oleh mahasiswa untuk berbagai keperluan.

Selama berkumpul, Saya mengamati pola-pola interaksi yang terjadi antar sesama mahasiswa di ruangan itu. Mereka yang sedang bimbingan PA dapat berinteraksi langsung dengan Tim DMIS yang merupakan adik-adik kelas mereka. Ternyata sebagian dari pekerjaan PA mahasiswa tahun akhir tersebut beririsan dengan pekerjaan yang dilakukan oleh Tim DMIS. Sehingga mereka bisa saling berbagi, berinterkasi dan bantu-membantu. Mulai dari kajian-kajian teoretis, analisis hingga implementasi ke kode program. Hasilnya, pekerjaan bimbingan yang Saya lakukan sedikit terbantu dengan kegiatan sharing yang mereka lakukan. Saya juga memperhatikan bagaimana excited-nya mereka melihat hasil kerja PA senior-senior mereka. Ada seorang mahasiswa yang sedang melakukan peneltian tentang bahasa isyarat dengan menggunakan Kinect. Ada yang membangun sistem yang mampu melakukan prediksi, dan ada yang mengembangkan sistem deteksi lokasi di dalam gedung, dan sistem-sistem lainnya. Sistem-sistem itu hampir selalu menggunakan algoritma yang dikaji oleh Tim DMIS. Jelaslah bahwa semua pekerjaan yang dilakukan itu, hampir selalu beririsan dengan apa yang sedang Tim DMIS lakukan.

Tim DMIS berkumpul untuk mengerjakan sesuatu. Sesuatu yang Saya maksudkan adalah suatu proses yang dilalui mengikuti kaidah-kaidah ilmiah hingga menghasilkan sesuatu yang lain. Sebutlah mereka sedang melakukan penelitian mandiri. Mereka berkumpul untuk merencanakan, menganalisis dan menyimpulkan sesuatu dari data yang Saya berikan. Kesimpulan tersebut akan dituliskan dalam sebuah karya ilmiah.

Karya ilmiah tersebut adalah tantangan yang Saya berikan kepada mereka. Karena proses belajar selalui dimulai dari hal-hal kecil. Hingga akhirnya mereka membahas hal-hal yang lebih kompleks. Sayang jika semua hasil latihan mereka terkubur begitu saja tanpa ada hasil yang secara fisik dapat dimanfaatkan. Makanya Saya menantang mereka untuk mendokumentasikan hasil latihan tersebut ke dalam beberapa karya ilmiah. Saya tidak memaksa mereka melakukan itu, selalu ditegaskan bahwa kuliahlah yang nomor 1. Hasilnya mereka tetap melakukan penelitian mandiri secara berkelompok. Tim DMIS terbagi ke dalam dua kelompok. Masing-masing kelompok melakukan penelitian yang saling terkait.

Karena tantangan itu, mereka melakukan pertemuan rutin di ruangan 328. Pertemuan dihari kerja dilaksanakan setelah sholat Ashar, Saya hampir selalu mengikuti pertemuan itu. Saya juga pernah hadir saat pertemuan dihari libur. Pertemuan ini menghasilkan banyak manfaat. Saya senang dengan apa yang mereka lakukan dan capaian-capaian yang telah mereka peroleh. Hasil itu dapat dimanfaatkan suatu saat nanti. Saya ingat saat riset S2 dulu. Saat itu kami (Saya dan teman-teman) berkumpul di Common Room di JTETI UGM. Hampir setiap hari dihabiskan dengan meriset tesis. Kami hanya keluar ketika makan siang dan sholat Zhuhur atau Ashar. Kejadian itu seolah-olah kembali terulang, meskipun hanya beberapa saat, di bulan Ramadhan ini.

Untuk diketahui, tim DMIS merupakan mahasiswa tahun 1 dan tahun 2. Terlalu dini bagi mereka untuk memikirkan penelitian. Akan tetapi, sejauh yang Saya pelajari, tidak ada batasan bagi seseorang untuk memulai penelitian. Jadi angkatan berapapun bisa melakukan. Asal ada kemauan yang kuat dan bisa mengusahakan mandiri. Saya hanya berharap, semoga mereka berhasil menyelesaikan tulisan mereka dan mempersiapkannya untuk dikirimkan ke ab3049da9a0cd8d6e8b7c62586752472 (decrypt dengan md5) tertentu, meskipun yang dikerjakan bukanlah PA. Saya percaya bahwa “Jika Kamu melebihkan maka Kamu akan mendapat lebih”. Melebihkan bukan melebih-lebihkan, silahkan dimaknai lebih jauh.

Kepada mereka Saya selalu menyampaikan “sesuatu”. Saya berharap apa yang Saya sampaikan itu selalu dipegang teguh dan diaplikasikan secara nyata, baik sekarang ataupun nanti. Saya tidak ingin mendengar hal-hal lain yang melibatkan mereka terkait dengan apa yang telah dilakukan. Just do it e692d1149582403f6e33feb58ec53eb5 (silahkan decrypt dengan md5).

Kesibukan dan aktifitas yang berlebih telah membuat waktu berjalan begitu cepat. Hari ini, sekitar 8 hari lagi, Saya akan segara bertemu dengan Anak dan Istri tercinta. Kesendirian yang Saya lalui hampir tidak terasa ketika diberikan kesempatan untuk beraktifitas lebih dengan beberapa orang mahasiswa. Selalu ada hikmah dibalik semuanya. Semoga kita termasuk ke dalam golongan orang-orang yang beruntung. Aamiin.

Tenayan Raya, Pekanbaru – Juli 2014

Beberapa kegiatan yang didokumentasikan:

DMIS Team

DMIS Team

Share :
  • Print
  • Digg
  • StumbleUpon
  • del.icio.us
  • Facebook
  • Twitter
  • Google Bookmarks
  • Google Buzz
  • RSS
  • Technorati
  • Add to favorites
  • email
  • MySpace
  • Plurk

Tentang Isaninside - Muhammad Ihsan Zul

Isaninside - Muhammad Ihsan Zul, Seorang suami dari Rizka Irma Septiani dan bekerja sabagai Dosen di Politeknik Caltex Riau (PCR). Lulusan Pendidikan Teknik Elektronika FT UNP [Padang] tahun 2009 dan menyelesaikan pendidikan Pasca Sarjana di UGM tahun 2012. Ilmu untuk dibagi bukan dipamerkan. Let's Share!
Bookmark and Share Subscribe

One Response to “Nasya dan Mamanya, Mahasiswa dan Ruang 328”

  1. Apa kabar Pak Ihsan ^^ wahh.. tulisan baru, sudah lama ditunggu tunggu.. panjang san tulisannya.. itu rangkuman dari berbulan2 ya san.. hhehe, kehidupan baru dengan dunia baru san..ok deh san update terus ya san.. salam buat si cantik nasya :P

    Reply

Tinggalkan komentar