Membangun Diri yang Saling Berbagi (1)

Tulisan ini sedikit gambaran keinginan yang ingin saya tanamkan untuk suatu konsep diri sendiri. Akan ada 3 postingan terkait dengan tulisan ini, Selamat membaca.

Kelompok dan Organisasi Pertama – Pramuka MTsN Model Padang

Dulu, saat aktif di kegiatan kepramukaan MTsn Model Padang Saya bertemu dengan berbagai macam teman. Di organisasi itu Saya diperkenalkan dengan kegiatan-kegiatan yang dilakukan dengan cara berkelompok. Kelompok yang dibentuk untuk mengerjakan tugas tertentu. Bagi kelompok yang dapat menyelesaikan pekerjaan dengan baik akan mendapat reward dari para asisten dan Pembina. Kegiatan inilah yang mengenalkan Saya akan keberagaman kemampuan teman-teman pada saat itu.

Pada dasarnya, setiap anggota pramuka dituntut untuk memiliki keterampilan individu yang terkait dengan kegiatan kepramukaan. Sebut saja kemampuan menggunakan tali temali, sandi morse, dan semapur. Semua keahlian itu bisa didapat dengan belajar secara mandiri, rutin dengan metode yang beragam. Salah satu cara  mudah mempelajari kemampuan tersebut adalah dengan melakukannya bersama kelompok. Tujuannya adalah agar setiap anggota kelompok memiliki kemampuan yang lebih baik dalam hal kepramukaan. Walaupun memiliki daya tangkap yang berbeda, kami selalu mengaharapkan teman-teman seanggota bisa maju bersama-sama.

Setiap manusia dilahirkan dengan kemampuan yang beragam. Tentu saja seorang anggota tidak bisa disamakan dengan anggota lainnya. Apalagi dengan membanding-bandingkan mereka, berangkali itu merupakan suatu tindakan  yang tidak baik. Saat itu Saya sempat mengamati kalau teman-teman tersebut memiliki kemampuan yang tidak sama dalam memahami sesuatu. Teman-teman yang memiliki daya tangkap yang baik (cepat) memiliki tingkat penguasaan yang lebih baik. Hanya dengan membaca dan mempraktekan, dalam waktu beberapa menit keahlian tersebut telah terekam dalam memorinya.  Ada anggota yang membutuhkan waktu yang lebih lama dalam memahaminya dan terkadang membutuhkan bantuan teman-teman yang lebih dulu baham untuk mengkoreksinya. Bahkan ada teman-teman yang sangat susah untuk memahaminya. Butuh waktu ekstra untuk membantu mereka memahami keahlian tersebut. Saya sangat senang karena mereka tidak patah semangat, sehingga teman yang membantupun jadi bersemangat. Walaupun harus dikoreksi berkali-kali. Butuh kesabaran.

Gambaran kegiatan di atas menunjukkan bahwa ada proses edukasi yang dilakukan. Kegiatan yang melibatkan kelompok membentuk terjadinya kegiatan saling berbagi pengetahuan. Tentu saja akan lebih baik jika terjadi diskusi dalam bentuk tanya jawab dilakukan secara terus menerus. Bagi anggota yang tidak mengerti memiliki kesempatan untuk bertanya. Sedangkan teman-teman yang telah memahami akan menjawab pertanyaan tersebut. Jawaban akan lebih sempurna jika dikoreksi secara bersama-sama. Artinya setiap anggota secara aktif harus terlibat dalam kegiatan diskusi.

Ada beberapa poin yang membuat Saya terkagum-kagum dengan kegiatan berkelompok itu. Kegiatan berkelompok merupakan kegiatan yang efektif dalam menanamlan jiwa senasib dan sepenanggungan. Meraka yang biasa menutup diri akan secara perlahan akan mengenal cara berbagi.  Selain itu, kegiatan berkelompok  merupakan salah satu cara yang efektif untuk membentuk kelompok belajar yang secara mandiri mengembangkan pengetahuan mereka. Pengetahuan-pengetahuan yang dijadikan tujuan yang harus dicapai.

Saat itu, Saya termasuk pelajar yang belum memiliki konsep diri yang sesuai jika dikaitkan dengan sifat saling berbagi. Hal ini mungkin terjadi karena masih remaja dan masih sangat labil. Terkadang tindakan yang dilakukan terkesan sombong bagi anggota lain. Bahkan terkadang muncul tindakan dan perkataan yang mengisyaratkan bahwa “akulah yang paling jago”. Tindakan yang secara tidak sadar telah menyakiti anggota lain. Sifat ini sering membuat lupa diri dan menganggap yang lain tidak paham dan belum apa-apa jika dibandingkan dengan kita. Astaghfirullah. Meskipun demikian, terkadang rasa ingin berbagi muncul dan menyelinap di diri kita. Rasa yang kemudian menjelma menjadi sebuah konsep diri yang selanjutnya harus diterapkan. Sebut saja, seperti kegiatan yang meluangkan waktu untuk berdiskusi tentang sesuatu. Tindakan tersebut menghasilkan rasa puas dan senang telah membantu orang lain. Walaupu bantuan yang diberikan tersebut dilakukan tanpa pamrih. Kenikmatan berbagi.

Masih akan berlanjut…

Share :
  • Print
  • Digg
  • StumbleUpon
  • del.icio.us
  • Facebook
  • Twitter
  • Google Bookmarks
  • Google Buzz
  • RSS
  • Technorati
  • Add to favorites
  • email
  • MySpace
  • Plurk

Leave a Reply

2 thoughts on “Membangun Diri yang Saling Berbagi (1)”