Home » Activities, Artikel, Opini » Blogging, Hikmah dan Manfaatnya (Pengalaman Pribadi Penulis)

Awalnya…

Saya mengenal dunia blogging ketika mengikuti perkuliahan Web Programming di Teknik Elektronika Universitas Negeri Padang. Saat itu Saya mengenal sebuah layanan blog gratisan populer yang dikenal dengan nama WordPress. Saya memulainya dengan membuat blog WordPress dengan alamat http://isaninside.wordpress.com. Ya, blog itulah yang Saya gunakan untuk melengkapi tugas mata kuliah web programming pada saat itu. Blog tersebut juga menjadi wadah yang menjembatani Saya untuk berinteraksi dengan dunia maya secara lebih intens. Dari sana Saya mengenal beberapa forum diskusi serta teman-teman dunia maya. Teman-teman yang menjadi partner diskusi seputar dunia perblogan. Hingga saat ini, mungkin Saya belum pernah beratatap muka secara nyata dengan mereka. Itulah hebatnya dunia maya.

Mengapa Isaninside?

Mengapa “Isaninside”? Nama isaninside Saya dapati setelah belajar menggunakan aplikasi-aplikasi desain grafis dan aplikasi image editing. Saat itu Saya mengakali beberapa logo vendor-vendor pembuat komponen dan perangkat untuk PC, sebut saja HP (Hawlett Packard), Intel, AMD, dan beberapa vendor lainnya (Saya lupa). Dari sana Saya mencoba memodifikasi dan melakukan retouch semua teks yang terdapat di dalam logo. Saat itu Saya berhasil mengakali logo Intel Pentium 4, kegiatan itu terjadi kira-kira tahun 2004 – 2005-an. Editting yang Saya lakukan sangat sederhana bagi para expert, tapi luar biasa bagi Saya saat itu. Saya mengganti tulisan intel dan menyisakan tulisan inside-nya. Jadilah Isaninside.

Merasa “settled” dengan kata/alias isaninside, Saya memberanikan diri untuk menggunakan alias itu sebagai “penanda” setiap foto, logo dan mungkin spanduk yang Saya buat. Hingga akhirnya “alias” itu Saya gunakan sebagai “Alias” untuk berinteraksi dengan dunia maya. Alias itu Saya pasang sebagai nama domain yang Saya gunakan di blog gratisan. Layaknya teman-teman blogger lainnya, kebanyakan dari mereka tidak menggunakan nama asli ketika berinteraksi secara maya, maka Saya juga melakukan hal yang demikian. Namun nama “isan” tetap menjadi bagian dari Alias tersebut.

Blog Pertama

Blog http://isaninside.wordpress.com adalah blog pertama Saya yang hampir 2 tahun Saya telantarkan. Blog tersebut telah menuntun Saya untuk memaksimalkan penggunaan Blog gratisan wordpress saat itu. Saya telah melakukan berbagai macam kostumisasi untuk blog tersebut. Trik-trik tersebut Saya dapat setelah bergabung dengan forum resmi wordpress.com Indonesia dan mencari sendiri di dunia maya. Forum Resmi WordPress Indonesia “http://id.forums.wordpress.com” adalah forum yang mewadahi semua blogger wordpress.com. Kebanyakan blogger yang berinteraksi di forum itu bukanlah para expert, tetapi para-para pemula yang baru mencoba menggunakan wordpress, dan bahkan mereka yang menginginkan blog mereka tampil “beda”, walaupun masih menggunakan gratisan. Hingga Saya mengenal beberepa teman yang intens berdiskusi. Hasilnya, banyak teman, banyak ilmu dan banyak pengetahuan baru seputar wordpress.com yang Saya dapat pada saat itu. Kegiatan itu telah Saya lakoni sepanjang tahun 2008 – 2009.

Berawal dari gratisan dan beralih ke isaninside.net

Bulan ke 4 tahun 2009, Saya memutuskan untuk membeli domain dan menyewa hosting di rumahosting.com. Domain yang Saya pilih tetap isaninside dengan jenis network. Jadinya http://isaninside.net, blog yang sedang Anda lihat ini. Mengapa Saya pindah? Saat itu, Saya merasa “cukup sakti” untuk menggunakan wordpress.com, Saya menginginkan modifikasi dan permak wordpress berdasarkan codingnya. Artinya Saya harus memiliki hak akses ke source code blog yang Saya miliki. Nah fasilitas seperti ini tidak di dapat di wordpress.com. Untuk bisa mengakses file-file seperti CSS, file themes dan file engine maka pengguna harus melakukan upgrade akun dengan membayarkan sejumlah uang melalui paypal dan sebagai macamnya. Hmmm lumayan ribet, dan merasa pesimis dengan jalan tersebut. Harus ada alternatif lainnya. Kemudian Saya mendapat rekomendasi dari seorang teman SMA untuk membuat domain sendiri dengan menggunakan layanan gratisan, seperti layanan gratisan untuk domain dan hosting.

Awal tahun 2009, Saya mencoba membuat domain di .co.cc dan hosting di 000webhost.com. Dari sanalah petualangan mengoprek source theme dan source code engine wordpress Saya mulai. Saya berhasil melakukan modifikasi themes wordpress dan mengenali langkah-langkah yang dilakukan untuk melakukan hosting website. Dimulai dari penyetinggan database, hingga username dan passwordnya. Selain itu Saya juga mengenal aplikasi-aplikasi remote ftp yang biasa dikenal dengan nama filezilla. Aplikasi ini digunakan untuk melakukan hosting semua source code yang diutak-atik untuk dipasang di server. Akun gratisan tersebut telah memperkenalkan Saya ke dunia baru yang sebelumnya belum Saya kenali. Dunia baru dengan tantangan baru dan dengan sejumlah ilmu yang baru.

Gratisan tetap gratisan, dan ada fasilitas-fasilitas yang dibatasi, termasuk nama domain yang kurang greget pada saat itu. Kenapa? Karena nama domain yang kita miliki masih berada di bawah domain .co.cc, artinya kita hanya diberi subdomain. Saat itu Saya menggunakan nama isanrsk.co.cc. Kurang menjual dan kurang mudah untuk di kostumisasi. Bermodalkan pengetahuan di dunia gratisan, Saya melakukan pembelian domain isaninside.net.

Hikmah, manfaat dan kemudahan
Ternyata banyak perbedaan antara domain gratisan dengan domain dan hosting yang berbayar, saat itu Saya mulai menyadarinya. Saya menemui berbagai macam fasilitas ketika membeli isaninside.net. Fasilitas-fasilitas tersebut berada di bagian control panel system yang biasa dikenal dengan cPanel. Berarti Saya harus belajar dan beradaptasi dengan sistem baru yang elegan ini. Nah dari pengetahuan itulah Saya mencoba berbagai macam trik yang tersebar di dunia maya. Coba, gagal, coba lagi, gagal lagi, coba lagi dan berhasil, trial and error. Itulah yang harus dilakukan ketika mencoba sesuatu yang baru, dengan mencoba kita banyak tau, dan akan menjadi pengalaman yang insyaAllah akan bertahan lebih lama. Hal ini terjadi karena kita mengalaminya secara langsung dan memahami langsung permasalahannya terjadi dimana.

Setiap pengetahuan baru yang Saya dapatkan selalu Saya usahakan untuk ditulis dan selanjutnya di publish di blog. Tujuannya agar selalu mengingatnya, dan jika lupa, berarti Saya sudah memiliki dokumentasi lengkap dengan stepnya. Membuka dokumentasi dan mengingatkan kembali. Barangkali filosofi inilah yang ditulis di slogan ilmu komputer, “ikatlah ilmu dengan menuliskannya”. Selain tulisan itu bermanfaat bagi kita sendiri, secara tidak langsung akan bermanfaat bagi orang lain yang “kebetulan nyasar” ke blog yang kita miliki. Tanpa sadar kita telah membantu para petualang yang sedang membutuhkan bimbingan untuk menyelesaikan masalah yang mereka hadapi, jadi suatu amal kebaikan yang berharga. Jangan salah, dengan semua tulisan-tulisan tersebut, lagi-lagi secara tidak langsung kita menjadi populer di dunia maya. Berkah bukan? Ayo mari tuliskan dan mulai mempublikasikannya.

Mencurhati Tulisan

Mungkin tulisan-tulisan yang berisi, tips dan trik, tutorial, dan petunjuk-petunjuk teknis berbau IT merupakan salah satu tulisan yang paling banyak Saya tuliskan. Akan tetapi, tulisan yang bersifat aktifitas, pengalaman dan pelajaran hidup juga menjadi bagian yang penting di blog ini. Bagi Saya tulisan seperti itu bukan sekedar curhat belaka, tetapi lebih kepada cara menyelesaikan ke-“galauan” diri ketika tidak memiliki cara lain yang tepat untuk melampiaskannya. Terkadang kebiasaan melepaskan sesuatu menjadi sebuah tulisan membuat Saya lega dan merasa lebih nyaman. Tentu kita memfilter apakah semua tulisan tersebut layak dikonsumsi umum atau tidak. Tulisan yang bersifat terlalu “privacy” tidak pernah Saya publish. Saya simpan dan Saya dokumentasikan di laptop, dan hanya orang tertentu yang boleh membacanya. Sedang tulisan lain yang “mungkin” bermakna bagi orang lain, selalu Saya bagi. Semua itu termasuk pengalaman-pengalaman menghadapi event-event tertentu yang mungkin para pengunjung juga akan menjalaninya, apa salahnya kita share bukan?

Komunitas Palanta

Setelah beraktifitas lebih kurang 3,5 tahun, Saya telah bergabung ke beberapa forum diskusi yang menurut Saya memiliki kesamaan minat, visi, misi dan latar belakang. Salah satunya PALANTA. Saya sudah mengenal komunitas ini ketika masih berupa komunitas “Blogger Padang” (jika Saya tidak salah) yang saat itu diisi oleh beberapa orang senior Saya, seperti Mr. Anton Hilman dan Mr. Adriyanto. Belakangan Saya juga mengenal salah seorang dosen Poltek Unand yang sedang melanjutkan S3 di ITS Surabaya. Ternyata beliau termasuk salah satu pengagas awal berdirinya PALANTA yang sekarang dikenal sebagai Komunitas Blogger Sumatera Barat. Saat itu yang Saya lakukan hanya sebatas mengenal, belum bergabung, tetapi Saya sempat melakukan blogwalking ke blog beberapa anggota PALANTA saat itu, hingga sekarangpun Saya masih melakukannya. Walaupun kadang tidak meninggalkan komentar, dengan menyampaikan di tulisan ini, sepertinya bisa mengungkapkan aktifitas (memata-matai) yang Saya lakukan. Hingga pada tahun 2011 ini, Saya bergabung melalui grup facebook PALANTA. Bergabung setelah Saya tidak lagi menetap di Padang untuk sementara waktu. Sekurang-kurangnya foto-foto tempat makan yang di publish grup tersebut bisa mengingatkan Saya dengan kota Padang. Mana tau, ternyata salah satu tempat yang digunakan untuk Kopdar pernah menjadi tempat nge-date Saya, barangkali. Haha jadinya bisa menjadi bagian dari “sepanjang jalan kenangan”.

Walaupun “jarang/sangat jarang/jarang sekali” berkomentar di forum (Facebook) tersebut, Saya masih menyempatkan diri untuk melihat-lihat semua aktifitas yang dilakukan oleh rekan-rekan tersebut. Sebagai seorang yang pasif, Saya hanya bisa mengusulkan begini, “mengapa kita tidak menggunakan bahasa minang ketika berinteraksi satu sama lain”. Mengapa demikian? Bukan bermaksud berdikotomi, tetapi karena kita berangkat dari kultur yang sama, mengapa tidak “disemarakkan” dengan menggunakan bahasa sendiri? Dengan begitu mungkin kita telah melakukan pelestarian budaya terutama “bahasa” dari komunitas dengan kultur yang sama.

Mohon maaf, usul tersebut hanya sekedar masukan yang mungkin harus dipertimbangkan kembali positif dan negatifnya. Mungkin sebelum Saya bergabung, teman-teman di grup tersebut telah mempertimbangkan hal yang demikian dan menyepakatinya dengan cara seperti itu. Mudah-mudahan hikmah dan manfaat dari tulisan ini bisa dimanfaatkan oleh para pengunjung sekalian. Mohon maaf jika terkesan sok guru, sok bijak dan sok lain beserta teman-temannya. Mudah-mudahan dijauhkan dari kesan seperti itu. Amin.

In the end…

Tulisan ini Saya dedikasikan untuk hari ulang tahun Komunitas Blogger Sumatera Barat (PALANTA) yang akan dilaksanakan tanggal 31 Desember 2011. Sebagai pemuda minang, Saya senang dan bangga dengan kegiatan edukasi melalui dunia blogging dan forum diskusi, persis seperti yang telah dilakukan teman-teman PALANTA. Saya hanya bisa berkomentar dan belum berkontribusi, sedangkan teman-teman telah melakukannya. Semoga jaya dan sukses.

Isaninside – Yogyakarta, Desember 2011

Share :
  • Print
  • Digg
  • StumbleUpon
  • del.icio.us
  • Facebook
  • Twitter
  • Google Bookmarks
  • Google Buzz
  • RSS
  • Technorati
  • Add to favorites
  • email
  • MySpace
  • Plurk

Tentang Isaninside - Muhammad Ihsan Zul

Isaninside - Muhammad Ihsan Zul, Seorang suami dari Rizka Irma Septiani dan bekerja sabagai Dosen di Politeknik Caltex Riau (PCR). Lulusan Pendidikan Teknik Elektronika FT UNP [Padang] tahun 2009 dan menyelesaikan pendidikan Pasca Sarjana di UGM tahun 2012. Ilmu untuk dibagi bukan dipamerkan. Let's Share!
Bookmark and Share Subscribe

10 Responses to “Blogging, Hikmah dan Manfaatnya (Pengalaman Pribadi Penulis)”

  1. pertama kali mampir kesini. salam kenla bang :D

    Reply
  2. Pertama, salam kenal uda Ihsan :)

    Kedua, soal penggunaan bahasa di forum/group sebenarnya bebas asal sopan. Mungkin karena belum ada yang mulai sering memakainya di group.

    Kalo saya pribadi merasa susah menggunakan bahasa Minang lewat tulisan. Pernah ngobrol dengan teman juga, katanya kalo bahasa Minang itu kulturnya lisan, jadi susah digunakan secara tulisan. Tidak ada “penulisan bakunya”.

    Reply
    • to : desti / takodok

      Salam kenal desti… thanks sudah meninggalkan jejak.
      Ya, saya setuju sekali dengan yang desti sampaikan. penggunaan bahasa mungkin ga akan menjadi halangan, yang penting maksud tersampaikan. Barangkali suatu saat akan ada yang memulainya, dan mungkin bisa ditanggapi dengan bahasa minang juga.

      Tentang “penulisan baku” bahasa minang mungkin saya belum terlalu paham, tapi saya punya kamus bahasa Minang. Saya juga tidak tau pasti apakah bahasa minang yang ada di kamus itu bisa mewakili keberagaman bahasa minang, karena beda kota/kab akan berbeda logat dan bahkan berbeda kata.

      thanks kunjungannya.. salam..

      Reply
  3. Mantap bang, blog inspiratif :) Salam kenal ya bang

    Reply
  4. salam kenal uda, ditunggu di palanta

    wanbul.net

    Reply
  5. boleh lah dibagi email rekomendasi di idblognetworknya bro…, kanai tulak trs…

    Reply
  6. Hi there! This is my first visit to your blog! We are a group of volunteers and starting a new initiative in a community in the same niche. Your blog provided us beneficial information to work on. You have done a marvellous job! akabdddebddafddd

    Reply

Tinggalkan komentar