Home » Activities, Opini » Arti Pujian, Positif atau Negatifkah?

Saya terbangun di kamar yang sepi, kamar yang tidak ditempati oleh orang lain selain Saya. Kamar itu adalah kos-kosan berukuran kurang lebih 3 x 3 meter, dengan pencayahan yang sedikit kelam. Ternyata tidur Saya tidak berkualitas seperti biasanya. Ada satu hal yang membuat tidur itu tidak nyaman, yaitu pikiran. Pikiran yang berkelana kesana-kemari dan telah mengalahkan posisi tubuh yang tergeletak diam di atas kasur.

Pikiran itulah yang memaksa Saya untuk menuliskan sedikit curhatan tentang pemahaman sederhana. Pemahaman yang Saya dapat setelah 24 tahun hidup di dunia dengan berbagai pola interaksinya. Pemahaman tersebut terkait dengan kata pujian. Pujian yang mengisyaratkan sebuah maksud, arti dan kejujuran yang disampaikan seseorang ke orang lain. Pujian yang mungkin tidak disadari maksud, arti dan nilainya kepada sikap dan perilaku Kita. Apakah berdampak baik bagi diri atau malah sebaliknya, membuat Kita menjadi lupa diri.

Tidak seorangpun yang ada dimuka bumi ini yang “mungkin” tidak pernah mendapat pujian. Hal ini mungkin menandakan bahwa pujian adalah salah satu pola interaksi yang hampir selalu terjadi di kehidupan manusia. Sebagai contoh, seorang anak yang mendapat prestasi gemilang, bukan tidak pasti akan mendapatkan pujian dari orang-orang yang ada di sekelilingnya, mulai dari sahabat, teman, keluarga dan sangat mungkin dari lembaga atau organisasi tertentu seperti sekolah. Pujian yang jelas-jelas diberikan atas prestasi gemilang yang diraih oleh siswa tersebut. Apakah ada yang salah dengan kondisi ini? Secara umum itu adalah hal yang lumrah, tapi “mungkin” secara psikologis ada beberapa hal yang harus diperhatikan. Jujur, Saya bukanlah seseorang yang mengenal dengan baik ilmu-ilmu psikologi, dan wajar jika Saya akan mendapat berbagai macam sanggahan terdapat tulisan ini.

Ada sisi positif yang mungkin didapat setelah mendapat pujian, salah satunya adalah bentuk apresiasi yang dikonversi si penerima menjadi sebuah motivasi untuk melakukan hal-hal yang lebih gemilang lagi. Hal-hal yang mungkin lebih baik dari keadaan yang pernah dilakukan sebelumnya. Hasil yang dicapai dengan prestasi tersebut pasti akan mengundang decak kagum orang lain. Decak kagum yang akan dilontarkan dalam bentuk pujian yang luar biasa kepada individu tersebut. Sangat mungkin terjadi.

Sisi lainnya, terdapat beberapa masukan psikologis yang membuat individu tersebut menjadi pribadi yang lebih, lebih baik dari segi prestasi dan akan menumbuhkan rasa percaya diri dengan kuantitas yang mungkin berlebih dan kadang berlebihan, terlalu percaya diri, egois dan mungkin tidak menganggap orang lain, dan bukan tidak mungkin bisa menyakiti orang lain. Apakah ada yang kejadian yang demikian? Saya berharap psikolog bisa memerikan jawabannya, namun dalam berinteraksi mungkin Anda menemuinya.

Bukanlah hal yang sepele bagi Kita ketika menerima pujian dari seseorang, terkadang Kita bangga, dan mengapresiasinya dengan jawaban yang merendah, dan kadang berusaha menutupi rasa GR dengan tindakan-tindakan yang tidak biasa, seperti menjadi salah tingkah. Yah, begitulah manusia.

Pada suatu Minggu, Saya mendengar sebuah pengajian yang disiarkan di layar kaca, saat itu Saya sedang asyik menyetrika baju-baju kuliah. Sembari menyetrika, Saya memetik beberapa poin penting tentang Pujian.

“Cobaan, masalah dan hambatan-hambatan bukanlah lawan yang sesungguhnya yang dihadapi oleh manusia yang beragama. Cobaan dan tantangan adalah pelajaran yang terbaik untuk medapatkan suatu nikmat yang luar biasa. Salah satu lawan yang paling nyata dan kadang tidak disadari manusia adalah Pujian. Pujian yang terkadang membuat manusia lupa diri, dan menganggap diri sosok yang paling baik, paling hebat dan bahkan tidak ada manusia lain yang ada disekelilingnya lebih hebat dari dia. Astaghfirullahal’azzim.”

Kutipan tersebut menjelaskan bahwa manusia adalah makhluk yang mudah lupa diri, dan bahkan melupakan sesuatu yang lebih penting, yaitu arti dan makna pujian itu sendiri. Pujian yang akan menghantarkan diri ke dua sisi yang saling berlawanan, postifkah atau bahkan negatif?

Nah, kalau begitu salahkah orang yang menyampaikan pujian? Saya tidak berpikir demikian, memuji adalah hak orang lain. Bukanlah hal yang bijak ketika Kita menutup diri dari semua pujian yang disampaikan orang lain. Pujian yang kadang tidak Kita ketahui apakah ujian yang disampaikan benar-benar tulus atau hanya sekedar basa-basi belaka, atau bahkan sebuah ucapan hiperbola yang hanya ditujukan untuk mencari simpati orang yang dipuji, penuh kepura-puraan. Semua itu benar adanya, apalagi dengan iklim “IP” sekarang. Maaf, IP refer to Ilmu Penjilat dalam bahasa minangnya Ilmu Panjilek. Mungkin dengan IP ada simpati dan dengan simpati ada penghargaan atas simpati itu. Sebuah hubungan timbal balik yang penuh kepura-puraan, sungguh tidak baik untuk dijadikan konsep diri.

Agaknya diperlukan kamampuan untuk melindungi diri dari pujian-pujian yang disampaikan orang lain. Pujian yang kadang membuat Kita lupa diri dan berperilaku yang mungkin tidak baik. Melindungi diri bukan menolak pujian, tapi menyalurkan pujian tersebut ke arah yang benar, sehingga membuat Kita menjadi lebih bijak dan terhindar dari sifat-sifat yang tidak baik. Selalu sadar bahwa pujian bisa membuat Kita lupa diri. Selalu peringatkan diri dan latihlah kecerdasan emosional dan kecerdasan Spiritual dengan baik. Latihan dengan memperingatkan diri akan membentuk filter masukan yang diberikan orang lain. Filter yang secara pribadi mungkin mampu digunakan untuk menilai ketulusan pujian yang disampaikan seseorang. Sehingga tidak terjebak dengan pujian tidak tulus yang hanya mengaharapkan sesuatu dengan cara yang tidak baik. Ingat selalu bahwa bahwa Kita sebenarnya belum apa-apa, dan masih ada langit di atas langit. Allah-lah pemiliki segalanya.

Semoga tulisan ini selalu menjadi peringatan bagi diri Saya sendiri dan pengunjung sekalian. Jika merasa bermanfaat, silahkan di-share.

Isaninside, Yogyakarta November 2011

Share :
  • Print
  • Digg
  • StumbleUpon
  • del.icio.us
  • Facebook
  • Twitter
  • Google Bookmarks
  • Google Buzz
  • RSS
  • Technorati
  • Add to favorites
  • email
  • MySpace
  • Plurk

Tentang Isaninside - Muhammad Ihsan Zul

Isaninside - Muhammad Ihsan Zul, Seorang suami dari Rizka Irma Septiani dan bekerja sabagai Dosen di Politeknik Caltex Riau (PCR). Lulusan Pendidikan Teknik Elektronika FT UNP [Padang] tahun 2009 dan menyelesaikan pendidikan Pasca Sarjana di UGM tahun 2012. Ilmu untuk dibagi bukan dipamerkan. Let's Share!
Bookmark and Share Subscribe

Belum ada komentar... Jadilah komentator pertama!

Tinggalkan komentar