Home » Opini » “Wasiat Mengerjakan Tesis”

Hari ini di penghujung bulan Oktober 2011. Saya tidak ingat kapan terakhir kali menulis di blog. Hingga akhirnya menulis tulisan ini. Tulisan yang Saya tulis sesaat setelah menyelesaikan beberapa hafalan dan pemahaman tentang mata kuliah Artificial Intelligence yang akan di-UTS-kan hari selasa ini. Tapi insyaAllah tulisan ini tidak akan membahas tentang kajian AI tersebut, karena memang Saya masih belum yakin dengan pengetahuan yang dikuasai . Pastinya – for a while I need to refresh my brain.

Bukanlah hal yang mudah untuk meninggalkan kebiasaan menulis, akan tetapi hari-hari yang sempit, beberapa kesibukan dan kadang pengaruh rasa malas membuat ide-ide dan imajinasi hilang begitu saja, tanpa sempat didokumentasikan melalui tulisan di blog ini. Sayang sekali memang.

Berapa bulan belakangan Saya sempat disibukkan dengan satu bagian dari Tesis yang sedang Saya kerjakan. Sebelumnya Saya memberanikan diri untuk mengajukan judul tentang perancangan sistem pemantau rumah otomatis dengan menggunakan Web sebagai media visual bagi pengguna. Pada saat mengajukan judul, jujur Saya masih bingung dengan konsep yang Saya ajukan. Modal yang Saya gunakan hanyalah membaca beberapa paper, jurnal dan prosiding yang terkait dengan kajian tersebut. Setelah membaca dan memahaminya dengan sedikit baik, akhirnya Saya mengajukan judul tersebut. Maklumlah, waktu pengajuan proposal tesisi sudah sangat mepet pada saat itu, dan topik inipun Saya dapat setelah bergabung dengan grup riset Pervasive JTETI UGM.

Setelah proposal diselesaikan dan dinyatakan diterima, ada rasa senang dan sedikit berbangga hati pada saat itu. Saya memulai aktiftas dengan berdoa dan meraba-raba teori serta aplikasi dari tesis yang Saya ajukan. Semakin banyak bacaan semakin membuka wawasan Saya tentang teori-teori yang mungkin digunakan untuk tesis tersebut, termasuk dengan beberapa arsitektur rancangan yang akan direalisasikan.

Teori tetaplah teori, teori yang harus ditindak lanjuti dengan merealisasikan sebuah rancangan aplikasi dari tesis yang akan Saya ajukan. Apa jadinya teori tanpa realisasi, dan apa mungkin teori bisa direalisasikan jika tidak memiliki kemampuan dan keahlian untuk mewujudkan teori tersebut. Mewujudkan teori  menjadi sebuah rancangan yang siap digunakan? Inilah masalah utamanya.

Kerja keras, mungkin salah satu jawabannya. Anggap saja, syarat untuk merealisasikan konsep rancangan yang Saya ajukan adalah kemampuan pemrograman. Kemampuan pemrograman meliputi  pemrograman C, Java dan PHP, serta harus memiliki pemahaman yang cukup (fuzzy) tentang protocol jaringan. Mustahil semua itu bisa dilakukan tanpa ada usaha dan upaya untuk menguasai bahasa pemrograman dari  teori-teori tersebut. Akan tetapi, Saya sadar sesadar-sadarnya bahwa semua manusia tidaklah sama, ada manusia yang mampu memahami sesuatu dalam waktu yang relatif lebih singkat, dan ada yang sebaliknya. Ada manusia yang memiliki motivasi yang tinggi untuk bekerja, dan ada yang membutuhkan individu lain untuk menyemangatinya agar kepercayaan diri kembali ke jalur yang telah direncanakan. Bahkan ada manusia yang telah bekerja keras dan memforsir dirinya untuk mempelajari sesuatu, namun masih belum mencapai hasil yang ditargetkan. Siapa yang salah dengan kejadian ini. Itulah manusia, Saya dan bahkan Anda yang sedang membaca tulisan ini mungkin mengalaminya.

Meminta bantuan orang lain bisa menjadi alternatif . Meminta bantuan bukan berarti menyuruh sesorang mengerjakan sesuatu dengan imbalan “uang” yang telah disepakati. Samaseklai bukan begitu, dan tulisan ini hanya Saya fokuskan pada pengerjaan Tesis atau Tugas Akhir yang dikerjakan “sendiri”.

Pada bulan Juli yang lalu, Saya sempat mengajukan perbaikan proposal tesis ke pembimbing Saya, yaitu Bapak Widyawan dan Bapak Lukito. Saya sempat berdiskusi tentang konsep tesis yang sedang Saya kerjakan. Saya sempat berdiskusi dengan Pak Widyawan dan mengharapkan Saya untuk merealisasikan tesis tersebut dengan model yang berbeda, dan Saya menyanggupinya untuk berusaha merealisasikan hal tersebut. Tekat Saya pada saat itu. Sayapun keluar dari ruangan beliau dengan membawa tanda tangan perbaikan proposal yang Saya harapkan.

Hari berikutnya, Saya menemui pembimbing kedua, yaitu ketua jurusan JTETI UGM, Bapak Lukito. Saya diminta untuk memaparkan konsep rancangan yang akan Saya kerjakan. Sayapun menceritakan panjang lebar tentang arsitekur dan rancangan tesis tersebut. Setelah memaparkan konsep tersebut, Saya mendapat wasiat yang menurut Saya bermanfaat  bagi mahasiswa seperti Saya pada saat itu. Wasiat ini sangat dekat hubungannya dengan keterkaitan antara teori dan kemampuan merealisasikan rancangan tesis yang akan Saya kerjakan. Wasiat tersebut kira-kira seperti berikut ini.

Sebaiknya pelajari dulu segala macam aplikasi dan bahasa pemrograman yang akan digunakan untuk membuat tesis tersebut, jangan fokuskan ke penulisan dari BAB-BAB tesisnya. Soalnya ada mahasiswa yang terlalu asyik mengerjakan Tesis, dan bahkan telah menyelesaikan sampai BAB 3, namun akhirnya mentok karena kesulitan dalam merealisasikan rancangan tersebut ke dalam bentuk program atau perangkat. Kebanyakan terjadi karena tidak menguasai teori dan bahasa pemrograman yang telah direncanakan.”

Wasiat tersebut akan sangat berarti bagi mahasiswa yang merencanakan tesis atau tugas akhir dengan menggunakan bahasa pemrograman yang mungkin belum dikuasai dengan baik. Sangat mungkin bagi mahasiswa yang akan menerapkan konsep-konsep baru yang belum dipahami secara komprehensif, dan sangat cocok bagi Saya. Saya menyimpulkan begini: Pelajari teorinya, dan kuasai  bahasa pemrogramannya, selanjutnya baru dituliskan BAB per BAB-nya.

Dari tulisan di atas, Saya mencoba menjelaskan tentang arti pentingnya sebuah perencanaan. Perencanaan yang memerlukan keterkaitan antara rancangan teori dan kemampuan yang akan digunakan untuk mengerjakan Tesis atau Tugas Akhir. Sebijak-bijaknya seseorang, mereka akan selalu mengukur diri untuk mengerjakan sesuatu yang penting bagi karirnya. Jangan terlalu memaksakan diri untuk segala sesuatu yang masih abstrak dan kabur bagi kita, bahkan kerja keras pun belum tentu bisa merealisasikan itu. Karena sejatinya kemampuan kita mungkin hanya sampai di situ dan mungkin kita akan menjadi ahli di bagian yang lainnya.

Ingat, tulisan ini bukan berarti  untuk mengajak TIDAK BERUSAHA SAMA SEKALI. Akan tetapi lebih kepada kemampuan untuk merencanakan sesutau yang disesuaikan dengan kemaksimalan usaha. Jangan menjadi korban yang asyik  mengerjalan tulisan namun melempem ketika mengimplementasikan, sinkronkanlah kedua-duanya.

Jika Anda mahasiswa yang bergelut dibidang seperti TI, Elektronika dan lain-lain, perkayalah diri dengan menguasai satu, dua atau beberapa bahasa pemrograman yang menjadi minat Anda. Ini akan sangat membantu dalam mengerjakan Tugas Akhir ataupun Skripsi yang akan dikerjakan. Mencoba menguasai bukan berarti menunggu jadwal perkuliahan pemrograman, akan tetapi dengan mencari, mencoba dan menerapkan, akan sangat membantu dalam mengasah kemampuan pemrograman.

Tulisan ini hanya bentuk self motivation bagi diri Saya sendiri yang mungkin bermanfaat bagi pembaca lainnya, jika tidak bermanfaat juga tidak apa-apa :) . Maaf sekali jika analisisnya sangat dangkal…

Isaninside – Yogyakarta – Oktober 2011

Share :
  • Print
  • Digg
  • StumbleUpon
  • del.icio.us
  • Facebook
  • Twitter
  • Google Bookmarks
  • Google Buzz
  • RSS
  • Technorati
  • Add to favorites
  • email
  • MySpace
  • Plurk
Tags:

Tentang Isaninside - Muhammad Ihsan Zul

Isaninside - Muhammad Ihsan Zul, Seorang suami dari Rizka Irma Septiani dan bekerja sabagai Dosen di Politeknik Caltex Riau (PCR). Lulusan Pendidikan Teknik Elektronika FT UNP [Padang] tahun 2009 dan menyelesaikan pendidikan Pasca Sarjana di UGM tahun 2012. Ilmu untuk dibagi bukan dipamerkan. Let's Share!
Bookmark and Share Subscribe

Belum ada komentar... Jadilah komentator pertama!

Tinggalkan komentar