Home » Activities » Penghujung Tahun ke 8, Saya dan Dia (2)

Acara Perpisahan dan Memory Ekskul kelas 1. Kelanjutan cerita sebelumnya.

Pertengahan 2003, Saya masih tidak dikenal oleh Siswi S. Status masih sama, secret admirer. Saat itu sedang dilaksanakan acara perpisahan sekolah dengan kelas 3 tahun masuk 2000. Perpisahan dilaksanakan di Hotel Pangeran Beach, ruang Saty Hall. Rasa yang Saya rasakan sudah tidak bisa dibendung. Ingin sekali berkenalan, saat itu Saya tidak peduli, apakah dia masih pacaran atau tidak. Bagi Saya sekedar berkenalan bukanlah tindakan yang mengganggu hubungan orang lain, dan samasekali tidak berniat untuk mengganggu. Hanya ingin kenal saja, minimal membantu memulihkan rasa yang Saya alami. Entah rasa cinta atau rasa apa, yang pasti Siswi S harus kenal Saya. Namun ternyata rasa hanya sekedar rasa, dan keinginan hanya sekedar keinginan. Rasa boleh kuat dan menggebu-gebu, tetapi apa daya jika rasa itu tidak dibarengi dengan nyali yang kuat. Perkataan yang tidak seimbang dengan kemampuan. Jadi hasilnya nihil. Belum ada realisasi dan mungkin belum akan terealisasi dalam waktu dekat. Hingga saat itu, nyali yang Saya miliki masih belum mampu membawa Saya ke siswi S.

Kembali ke acara perpisahan. Saat itu Saya diajak teman Saya Ari untuk pergi bareng ke Pangeran. Ari menjemput  Saya ke rumah. Barangkali Ari adalah salah seorang teman yang paling mengerti dengan apa yang Saya rasakan. Saya mendapat berbagai macam respon positif dari Ari. Respon tentang perasaan yang Saya rasakan. Sangat membantu menguatkan nyali Saya pada saat itu. Jadilah kami berangkat ke Hotel Pengeran dengan  mobil Ari pada saat itu.

Beberapa menit kemudian sampailah kami di Hotel Pangeran. Saat itu acara pembukaan perpisahaan sedang dimulai. Ari menyuruh Saya untuk mencari dimana Siswi S berada. Ya, Saya menyanggupinya dan berusaha menemukannya. Namun usaha itu sia-sia, hampir sejam lamanya Saya tidak melihat Siswi S itu. Pandangan Saya terhenti dan terdiam setelah melihat ke arah panggung Saty Hall. Saya sedikit tidak yakin dan penasaran. Ternyata Siswi S berada di depan, dan bahkan paling depan. Tepatnya sedang tampil untuk performance menari pada saat itu. Tarian pembuka yang menggunakan kipas-kipas. Tari yang menggunakan benda kipas, dan yang pasti bukan kipas angin elektronik yang menggunakan listrik. Sebut saja tari Kipas, dan Saya berhasil menemukannya.

Saat itu Saya baru sadar, ternyata Siswi S adalah anggota ekskul BS, atau dikenal dengan Bengkel Seni. BS merupakan salah satu ekskul yang bergerak dalam bidang Seni, sebut saja menari, modern dance, Cheerleader dan lain-lain. Terdiam dan merenung, pikiran Sayapun kembali ke masa-masa disaat Saya menjadi salah seorang Calon Anggota TONTI (Caang TONTI). Saat itu sedang dilaksanakan seleksi Calon Anggota. Selaksi penentuan apakah Saya menjadi salah satu Caang yang akan dilantik atau ditolak. Berbagai macam ekskul berkumpul pada saat itu. Karena memang,  hari Minggu merupakan salah satu hari tersibuk bagi SMAN 2 Padang. Hampir semua Ekskul berkumpul dan melaksanakan berbagai kegiatan. Terutama kegiatan-kegiatan yang berhubungan dengan regenerasi kepengurusan dan anggota. Regenerasi dilakukan dengan berbagai macam  latihan. Masing-masing ekskul telah menempati pos masing-masing, apakah itu ruangan kelas, koridor atau mungkin lapangan upacara SMAN 2 Padang. Karena TONTI merupakan salah satu ekskul lapangan, jadi pasti akan berada di tengah-tengah sekolah. Lebih tepatnya menggunakan Lapangan Upacara. Semua kegiatan yang dilakukan pasti akan terlihat oleh ekskul-ekslul lain, kerana memang berada di tengah-tengah lapangan. Terlepas dari kata terlihat, beberapa kegiatan TONTI bisa jadi mengundang Ekskul lain untuk memperhatikannya. Karena saat itu Seleksi Caang sedang berlangsung. Kegiatan-kegiatan yang dilakukan banyak yang tidak biasa. Mulai dari tes mental hingga melakukan tindakan-tindakan yang lucu dan tidak biasa. Fitrah TONTI adalah ekskul semimiliter, jadi  wajar saja jika banyak teriakan-teriakan yang berasal dari ekskul ini.

Pada saat itu Saya mendapat hukuman dari senior. Saya lupa apa kesalahan Saya pada saat itu, yang pasti setiap kesalahan ada hukuman, dan Saya sedang dalam keadaan terhukum. Saya sempat berdiri ditengah-tengah lapangan SMAN 2 Padang seorang diri. Berdiri dalam keadaan siap dan pastinya harus bermuka tebal. Tegas dan siap, memang sangat percaya diri pada saat itu. Namun rasa percaya diri memang tidak dominan, harus berganti dengan kemampuan bermuka badak. Mengapa? Karena Saya berdiri siap di dalam sebuah tong sampah yang ditempatkan ditenggah lapangan upacara. Tong sampah yang dihinggapi lalat dengan aroma tajam yang menusuk. Menusuk indra penciuman. Keadaan semakin parah ketika arah berdiri harus menghadap ke semua ekskul yang pada saat itu juga sedang beraktifitas. Komplit sekomplit-komplitnya. Agaknya senior tahu betul bagaimana melatih Saya. Berlatih untuk belajar menggunakan muka badak, acuh dan cuek. Saya ingat, BS juga salah satu ekskul yang hadir pada saat itu. BS yang dikenal dengan ekskul yang mayoritas anggotanya adalah Siswi-siswi SMAN 2 Padang. Sial, bagaimana mungkin, dan malu sekali. Sebadak-badaknya Saya, rasa malu jauh lebih kuat pada saat itu. Saya menggerutu dan berpikir untuk tidak masuk sekolah esok harinya, sampai tindakan yang Saya kerjakan hari itu sudah terhapus di memori anggota ekskul lain yang hadir pada saat itu. Minimal rasa percaya diri Saya kembali muncul. Namun apa? Besoknya Saya tetap sekolah seperti biasa, malu dan tidak malu tidak ada alasan, karena Saya memang bukan siswa yang populer. Apa artinya malu? Ruangan kelas Saya juga terisolir dan tertutup dari aktifitas utama SMA. Berada di pojok SMAN 2 Padang (Labor Komputer Sekarang).

Waw. Saya termenung dan berfikir kembali, apa mungkin Siswi S ada pada saat itu? Saat dimana Saya berada gagah di dalam sebuah tong sampah yang terletak ditengah-tengah lapangan upacara. Kalau ada, alangkah malunya Saya. Merasa tidak yakin dan kembali, nyali Saya ciut, kalah sebelum bertanding. Apa yang akan Saya jawab kalau seandainya ucapan pembuka di sampaikan Siswi S berhubungan dengan hukuman yang Saya alami saat di TONTI? Pikiran Saya semakin negatif. Sempat terlintas dipikiran akan ada ucapan seperti ini “Oh, kamu cowok yang ada di dalam tong sampah tempo hari ya?” atau begini “Hahahaha, kamu lucu sekali saat ada di dalam tong sampah..” atau lebih parahnya begini “hahahaha (tertawa dan tertawa sambil melirik kearah Saya tanpa ada sedikitpun penjelasan)”. Mana ada Cewek yang mau dengan kondisi yang Saya alami itu?

Saat itu, Saya harus berpikir dua kali untuk berkenalan dengan Siswi S. Saya belum yakin dengan keadaan Saya pada saat itu. Ditambah dengan catatan jelek pada saat kegiatan ekskul. Mungkin bagi Anda itu bukan masalah, namun bagi Saya saat itu adalah saat yang memalukan, dan mungkin berakibat buruk dengan popularitas diri. Pastinya, Saya memang tidak populer, apalagi jika dibandingkan dengan dua cowok yang dekat dengan Siswi S, Teman A dan Cowok J. Komplit sudah.

Saat pulang dari pangeran Beach, Saya sempat mengutarakan rasa yang Saya miliki ke salah seorang teman yang mengenal Siswi S dan Cowok J. Sebut saja teman itu Teman B. Teman B melarang Saya untuk berkenalan dengan Siswi S. Teman B juga mengatakan bahwa Siswi S masih berpacaran dengan Cowok J. Saya termenung dan terhenyak. Saya menghargai itu dan sama sekali tidak berniat untuk merusak hubungan mereka. Pada saat itu Saya tidak pernah lagi melihat Siswi S dan Cowok J pacaran di depan kelas Siswi S. Disatu sisi Saya bersyukur dengan keadaan itu, disisi lain Saya hampir tidak pernah lagi melihat senyuman Siswi S. Hingga ujian Sekolah berakhir, Saya tidak pernah melihat Siswi S.

Masih akan berlanjut..

Share :
  • Print
  • Digg
  • StumbleUpon
  • del.icio.us
  • Facebook
  • Twitter
  • Google Bookmarks
  • Google Buzz
  • RSS
  • Technorati
  • Add to favorites
  • email
  • MySpace
  • Plurk

Tentang Isaninside - Muhammad Ihsan Zul

Isaninside - Muhammad Ihsan Zul, Seorang suami dari Rizka Irma Septiani dan bekerja sabagai Dosen di Politeknik Caltex Riau (PCR). Lulusan Pendidikan Teknik Elektronika FT UNP [Padang] tahun 2009 dan menyelesaikan pendidikan Pasca Sarjana di UGM tahun 2012. Ilmu untuk dibagi bukan dipamerkan. Let's Share!
Bookmark and Share Subscribe

4 Responses to “Penghujung Tahun ke 8, Saya dan Dia (2)”

  1. Ditunggu kelanjutannya,boz…
    I do hope that it’s going to be a sweet story based on real life…

    Reply
    • to : Alan aka Edo

      Hahahaha, thx kawan. sweet memory…. InsyaAllah dilanjutkan kawan.. thx alah dibaco..

      Reply
  2. mutia 25/07/2011

    hahhaha….
    barek juo perjuangan isan yo….
    lanjutkn caritonyo….

    Reply

Tinggalkan komentar