Home » Artikel, S2 JTETI UGM » Gulf of Evaluation dan Gulf of Execution dalam Kajian HCI

Tulisan ini membahas secara singkat tentang pengaruh gulf of evaluation dan gulf of execution dalam kajian Interaksi Manusia dan Komputer (IMK) atau Human and Computer Interaction (HCI).

Telah banyak penelitian yang membahas tentang perancangan antarmuka program aplikasi. Perancangan antarmuka terkait dengan aspek-aspek penting yang melekat dengan antarmuka, seperti tata letak, navigasi, warna dan huruf. Sebuah penelitian yang dipaparkan oleh paper [2], menjelaskan tentang penggunaan warna dalam mendesain sebuah antarmuka web. Paper ini memberikan gambaran tentang penggunaan warna yang terkait dengan kultural negara, kelompok dan organisasi. Penelitian tersebut melakukan studi tentang ketertarikan pengguna terhadap halaman web berdasarkan warna. Hasil penelitian pada paper ini mengemukakan sebuah palet warna tertentu dalam mendesain halaman web berdasarkan studi kultur pengguna. Gambaran hasil penelitian ini mengemukakan bahwa warna merupakan bagian penting dalam desain antarmuka dan hubungnnya dengan pengguna.

Faktor manusia merupakan faktor penting yang mempengaruhi penerimaan informasi dari sebuah halaman web [3]. Manusia dengen level pengetahuan berbeda (sama-sama mengenal penggunaan aplikasi internet) memiliki perbedaan dalam hal penggunaan navigasi. Penelitian menunjukan bahwa pemanfaatan  navigasi yang fleksibel lebih bermanfaat bagi ahli, sedangkan web dengan navigasi yang terstruktur lebih diperuntukan untuk kalangan menengah dalam hal pengetahuan. Kalangan menengah lebih bisa memanfaatkan konten yang terstruktur untuk menemunkan informasi yang mereka butuhkan. Kajian ini merujuk pada model mental sebuah navigasi halaman web. Penelitin ini merekomendasikan dilakukannya perancangan navigasi yang terstruktur dan sesuai dengan tingkat pengetahuan pengguna.

Kajian lainnya menunjukan bahwa manusia yang mengenal pola interaksi halaman web (memiliki model mental) lebih mudah berinteraksi jika dibandingkan dengan pengguna yang sama sekali belum terbiasa berinteraksi dengan halaman web tersebut [4]. Penelitian ini dilakukan dengan membandingkan kemampuan akses informasi pengguna terhadap halaman web yang memiliki konten sama akan tetapi memiliki navigasi yang berbeda. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa desain antarmuka halaman web memiliki pengaruh penting dalam mengali dan mengakses informasi bagi pengguna.

Penelitian-penelitian di atas mengambarkan peran penting interaksi manusia terhadap penggunaan halaman web. Interaksi ini tidak akan berjalan baik jika pengguna memiliki keterbatasan pengetahuan terhadap halaman web yang akan mereka akses. Keterbatasan ini memicu terjadinya jarak pemisah antara pengguna dengan sistem yang sedang mereka gunakan. Sebagaimana yang dijelaskan dalam buku [5], jarak pemisah dapat terjadi dalam bentuk keterbatasan fitur yang dimiliki oleh sebuah program aplikasi. Keterbatasan ini dikenal dengan nama Gulf of Execution. Jarak pemisah lainnya dikenal dengan nama Gulf of Evaluation. Keterbatasan ini terjadi ketika pengguna mengalami kesusahan dalam menginterpretasikan proses yang sedang dilakukan oleh sebuah sistem. Sehingga sering kali sistem yang sedang digunakan dianggap kurang komunikatif dari sisi IMK-nya.

Penelitian-penelitian yang telah disebutkan di atas menjelaskan tentang cara memaksimalkan peran sebuah antarmuka web dengan memandang dari sisi pengguna. Paper [4] menggambarkan cara peneltian yang dilakukan dalam melakukan survei sebuah antarmuka terhadap penggunanya. Paper [3] menjelaskan bagaimana faktor manusia berperan dalam memanfaatkan sebuah antarmuka. Paper-paper tersebut  secara implisit menjelaskan tentang perancangan antarmuka yang ditinjau dari sisi pengguna (end-user). Penelitian tersebut mengharapkan suatu studi praperancangan antar muka. Tujuannya adalah untuk menghasilkan sebuah halaman antarmuka yang model mentalnya telah disesuaikan dengan keinginan pengguna. Sehingga model konseptual bisa dianalisis berdasarkan model mental tersebut.

Model mental dapat diwujudkan dengan melakukan studi/survei terhadap pengguna. Studi ini akan menghasilkan banyak parameter yang mungkin perlu dibatasi kajiannya. Paremeter-paremeter tersebut akan terkait dengan tingkat kompleksitas interaksi sebuah halaman web. Khusus Jesomik, akan muncul banyak pertanyaan yang mengakibatkan banyaknya faktor-faktor yang menjadi rambu-rambu dalam desain antaramuka. Rambu-rambu ini kemudian menjadi sangat kompleks dan menimbulkan masalah kompleksitas interaksi.

Buku [5] menjelaskan tentang kajian kompleksitas interaksi. Buku tersebut menjelaskan tentang cara yang dapat dilakukan untuk menanggulangi kompleksitas interaksi. Konsep model mental merupakan patokan utama desainer terhadap pengguna. Model mental diartikan sebagai proses menciptakan kerangka kerja terhadap sesuatu atau cara kerja suatu benda. Jika dilakukan pendekatan konsep model mental terhadap antarmuka, maka pengguna dengan model mental tertentu diharapkan mampu memperkirakan secara logis bagaimana antarmuka tersebut seharusnya mereka jalankan.

Berdasarkan buku [5], kompleksitas interaksi dapat terjadi dalam berbagai bentuk seperti berikut.

  1. Jarak artikulatori, merupakan jarak antara kenampakan fisik suatu piranti dengan fungsi sesungguhnya. Jarak ini bisa terjadi pada sebuah antarmuka jika navigasi yang diberikan tidak menuntun ke halaman yang seharusnya. Desain antarmuka diharapkan memiliki jarak artikulatori yang kecil, sehingga mudah untuk digunakan.
  2. Jarak semantik, merupakan jarak yang terjadi setelah pengguna mengartikan berbagai simbol dari komponen yang menuyusun sistem tersebut. Pengguna dapat memahami hubungan tersebut dengan memahami jarak fungsionalitas suatu piranti dengan  yang sesungguhnya yang ingin pengguna lakukan.
  3. Affordance, merupakan kejadian dimana pengguna mengalami kesulitan dalam mengartikan maksud dari sebuah antar muka. Hasil intuitisi yang mereka lakukan malah berujung pada kebingungan. Hal ini sering terjadi jika objek yang dirancang tidak secara jelas menunjukkan bagaimana objek tersebut seharunya bekarja. Objek dengan tingkat affordance rendah akan mengakibatkan kesusahan dalam menjalankannya.

Isaninside, Jakarta – Juli 2011 – Let’s Share

Referensi

  1. [1]        Norman, Donald A., The Design of Everyday Things , New York, USA: Basic Book inc., 1988
  2. [2]        Kondratova, M and Goldfrab, I., “Color Your Website : Use of Colors on the Web,”
  3. [3]        Chena, Sherry Y., and Macrediea, R., “Web-based interaction: A Review of Three Important Human Factors,” in Usability and Internationalization, Part II, HCII 2007, LNCS 4560, pp. 123–132, 2007.© Springer-Verlag Berlin Heidelberg 2007.
  4. [4]        Faiola, A., and Matei, Sorin A., “Cultural Cognitive Style and Web Design: Beyond a Behavioral Inquiry into Computer-Mediated Communication,” in Journal of Computer-Mediated Communication 11 (2006) 375–394 ª 2006 International Communication Association.
  5. [5]        Santoso, Insap, Interaksi Manusia dan Komputer Edisi 2, Yogyakarta, Indonesia : Andi Publisher, 2009
Share :
  • Print
  • Digg
  • StumbleUpon
  • del.icio.us
  • Facebook
  • Twitter
  • Google Bookmarks
  • Google Buzz
  • RSS
  • Technorati
  • Add to favorites
  • email
  • MySpace
  • Plurk

Tentang Isaninside - Muhammad Ihsan Zul

Isaninside - Muhammad Ihsan Zul, Seorang suami dari Rizka Irma Septiani dan bekerja sabagai Dosen di Politeknik Caltex Riau (PCR). Lulusan Pendidikan Teknik Elektronika FT UNP [Padang] tahun 2009 dan menyelesaikan pendidikan Pasca Sarjana di UGM tahun 2012. Ilmu untuk dibagi bukan dipamerkan. Let's Share!
Bookmark and Share Subscribe

2 Responses to “Gulf of Evaluation dan Gulf of Execution dalam Kajian HCI”

  1. herman 14/07/2011

    Batambah juo wawasan wak san….share yang ada trus san…

    Reply

Tinggalkan komentar