Home » Activities » Penghujung Tahun ke 8, Saya dan Dia (1)

Tulisan ini merupakan torehan kehidupan nyata yang Saya lalui. Tentang kehidupan yang seharusnya dilalui dengan rasa senang, bahagia, gembira, lucu, sedih, marah, kecewa dan semua rasa kehidupan lainnya.  Tidak terkecuali ketika seseorang merasakan sebuah “rasa”. Rasa yang dibungkus menjadi sebuah anugerah yang tidak bisa ditepis kedatangannya. Rasa Cinta.

Cerita ini dimulai pada saat kelas 1 SMA  bulan ke-10 tahun 2002. SMAN 2 Padang, itulah sekolah Saya. Salah satu sekolah favorit yang pada saat itu sangat membanggakan bagi Saya. Seperti siswa lainnya, semester pertama Saya lalui selayaknya siswa SMA pada umumnya. Belajar, mengerjakan tugas, les, main PS rame-rame dan aktifitas lainnya. Sangat menyenangkan, siswa yang fleksibel terhadap waktu dan selalu menganggap semua yang dilalui akan mengalir begitu saja.

Saat itu Saya memiliki seorang teman (sebut Teman A) yang sedang mengalami masa puberitas. Dia sedang jatuh cinta. Saat kami duduk berdua,  kami sempat bercerita lumayan lama. Membahas sesuatu yang ujung dan pangkalnya tidak jelas dan tidak berhubungan sama sekali. Akan tetapi, kami sempat menyentuh esensi yang menjadi poin perhatian Saya di dalam tulisan ini. Teman A menanyakan perihal siswi yang ditaksirnya (sebut Siswi S). Pasti dan meyakinkan, saat itu Saya mengatakan kalau Saya samasekali tidak mengenal siswi yang dimaksud. Teman A itu menulis-nulis nama Siswi S. Seingat Saya, nama Siswi S juga ditulis di kalkulator Casio fx 4500 milik Saya, dan sempat disimpan di memory kalkulator. Saya sempat membaca nama itu dan sesaat merekamnya di dalam memori ingatan Saya.

Beberapa hari kemudian, Saya mendapat informasi kalau Siswi S telah resmi menjadi teman dekat (*pacar) Teman A itu. Wah, sepertinya Dia sangat bahagia. Garis-garis kebahagiaan terpancar di wajahnya, riang dan gembira. Begitu Saya mengamatinya. Saya hanya bisa bergumam, dan mengatakan “selamat dan semoga selalu bahagia”. Rasa yang belum Saya rasakan pada saat menempuh pendidikan menengah atas.  Saat itu status Saya jomblo, dan belum berniat untuk mengikuti jejak teman itu.

Beberapa minggu kemudian, Saya sempat berpapasan dengan pasangan tersebut. Tapi sepertinya mereka tidak jalan berdua, si Siswi S berjalan dengan teman-temannya dan Teman A berjalan mengiringinya dari belakang. Teman A sempat meminjam sebuah buku catatan siswi tersebut.  Siswi itu membalikkan wajahnya dan saat itulah pertama kalinya Saya melihat wajah Siswi S. Seorang siswi yang namanya masih tersimpan di memory kalkulator fx4500 pada saat itu.  Sesaat Saya terperangah, terbuai dan bergumam kagum, wah manisnya….. Jujur, Saya mengaguminya pada saat itu. Di dalam hati, Saya sama sekali tidak pernah berniat untuk memilikinya. Lagian jika dibandingkan dengan teman Saya itu, Saya belum apa-apa, masih jauh dan tidak populer.

Kekaguman itu adalah ekspresi wajar yang Saya alami pada saat itu. Siswi S itu memang membuat Saya terperangah untuk beberapa hari ke depan. Sayang sekali, selama masa itu Saya memang tidak meniatkan diri untuk selalu mengintip-intip wajahnya. Saya sadar kalau siswi itu adalah pacar teman Saya. Saya menghargai itu. Sekalipun kelas Saya dan kelas siswi itu bersebelahan.  Saat itu Saya membiasakan diri untuk bergaul seperti biasanya. Saya sudah tidak tertarik lagi mengawasi siswi itu.

Dua atau Tiga bulan kemudian, Saya menerima kabar yang mengejutkan dari teman-teman sekalas. Kabar tersebut berhubungan dengan hubungan yang sedang dijalani Siswi S dan Teman A. Apa yang terjadi? Ternyata hubungan mereka telah berakhir.  Saya tidak tau pasti penyebab putusnya hubungan mereka. Karena banyak hal yang lebih penting untuk dikerjakan. Saya tidak terlalu ambil pusing , toh mereka yang menjalani dan sama sekali tidak ada hubungannya dengan Saya.  Ada beberapa kegiatan yang menjadi perhatian Saya pada saat itu, Ekstrakurikuler dan Komputer. Semua aktifitas yang sampai detik ini masih menjadi perhatian Saya. Artinya belum ada waktu untuk memikirkan hal yang demikian. Hingga bulan ke-12 tahun 2002, Saya tidak mendengar lagi cerita Siswi S dan Teman A tersebut.

Semester 2, bulan ke-2 dan ke-3 tahun 2003, ingatan dan memori Saya kembali menyegar. Saat dimana Saya berpapasan dengan Siswi S. Siswi yang sempat membuat Saya terperangah dan terkagum-kagum beberapa bulan yang lalu. Saat itu Saya berniat membeli makanan di kantin sekolah. Letak kantin itu begitu strategis dan mengaharuskan Saya untuk selalu melalui kelas tetangga. Kelasnya Siswi S. Wah, jalan Saya terbuka lebar untuk mencuri-curi perhatian Siswi S tersebut, gumam Saya dalam hati. Walaupun kami tidak saling kenal, yang pasti Saya bisa memanfaatkan momen melihat wajahnya. Sadar atau tidak sadarnya Siswi S tidak penting bagi Saya, yang penting Saya melihat wajahnya. Haha, alangkah indahnya saat itu. Ada beberapa pertimbangan yang membuat Saya berani melakukan tindakan itu. Pertama : Saya sudah mengetahui kalau hubungan antara Teman A dengan Siswi S sudah berakhir beberapa bulan yang lalu. Kedua : Siswi S dalam status jomblo, mana tau ada kesempatan untuk saling mengenal *hopeless, dan ketiga : sejauh yang Saya tau, tidak ada seorang cowokpun yang berusaha mendekatinya. Kesempatan emas, merintis jalan, merajut harapan dan terlebih dahulu mencari perhatian.

Beberapa hari Saya efektifkan untuk melirik dan mengawasi gerak-gerik Siswi S. Semuanya berjalan lancar dan sangat memotivasi Saya. Catatan, pada saat itu Saya masih berstatus secret admirer. Siswi S sama sekali tidak mengenal Saya.

Beberapa hari kemudian, Saya memperhatikan kondisi membuat Saya tidak nyaman. Ternyata pertimbangan pada poin ketiga tidak sesuai dengan prediksi Saya. Ada seorang cowok yang mulai mendekati Siswi S. Cowok yang belum Saya kenal dan sepertinya berasal dari kelas yang jauh dari kelas kami. Cowok itu berinisial J. Saya pernah mengawasi mereka. Saat itu mereka sedang asyik berbincang di depan pintu kelas. Begitu bahagianya Siswi S,  Saya gembira melihat raut wajahnya. Namun keberadaan cowok J didekatnya membuat Saya tertegun dan menelan ludah. Sesekali Saya sempat berkhayal, kalau Cowok J berganti peran dengan Saya. Ah, alangkah indahnya. Kejadian ini tidak berjalan sekali atau dua kali, hampir setiap istirahat jam pelajaran. Saya tidak tahu apakah mereka sadar kalau Saya sedang memata-mati mereka. Kalaupun mereka tau, Saya masih bisa berkilah, dimanapun tempatnya kalau melihat di tempat umum tidak dilarang, apalagi membayar. Keadaan ini seolah-olah menutup harapan Saya pada saat itu. Sebenarnya jauh di lubuk hati, Saya ingin mengenal Siswi S tersebut lebih jauh. Tapi apa daya, belum punya nyali dan masih gugup, lagian saat itu Saya memang bukan siapa-siapa. Saya hanya seorang Secret Admirer.

Beberapa hari memperhatikan mereka membuat Saya harus menyimpulkan sesuatu. Kebahagiaan dan senyum yang menganga dari mulut Siswi S, membuat Saya sadar kalau Cowok J adalah orang yang pantas dan berhasil membuat Siswi S bahagia. Hampir disetiap pertemuan mereka, Siswi S selalu tersenyum. Senyuman yang secara tidak langsung membuat Saya bahagia. Saat itu Saya memutuskan diri untuk berhenti memata-matai mereka. Sepertinya Siswi S sudah memiliki seseorang yang menurut Saya pantas dan tepat untuk dijadikan teman dekatnya. Obat penawar kegagalan hubungan pertamanya dengan Teman A. Hubungan yang berakhir dalam waktu yang singkat.

Siswi S dengan Cowok J adalah pasangan yang serasi pada saat itu, support dari teman-teman Siswi S dan Cowok J membuat Saya semakin kecil dan mengecil. Kalaupun seandainya Saya mendekati Siswi S Saya tidak memiliki masa pendukung. Hehehe, kasihan sekali. Saya sempat  berharap, semoga Siswi S bahagia dan selalu tersenyum dengan calon pasangan barunya. Semoga.

Bulan berikutnya Saya kembali berusaha melupakan wajah Siswi S dari ingatan Saya. Saat itu secara resmi Saya mengetahui kalau Siswi S dan cowok J telah menjadi pasangan. Sudah saatnya bagi Saya untuk tidak mengingatnya lagi, Siswi S sudah memiliki seseorang, seseorang yang berani mengungkapkan perasaannya, tidak seperti Saya, loser. Kadang Saya kecewa dengan diri Saya sendiri, mengapa Saya tidak berani? Seandainya Saya berani dan lebih cepat memanfaatkan momen, mungkin ada peluang untuk menjadi bagian dari Siswi S. Minimal dia mengetahui kalau Saya menyukainya. Ah, nasi sudah menjadi bubur. Saatnya tatap harapan baru dan lupakan yang telah berlalu. Lirih hati dan masih bisa bergumam “Saya kecewa”.

Sejak mereka jadian, Saya memperhatikan fenomena yang berbeda dari biasanya. Jika saat sebelum pacaran mereka selalu bercengkrama dan berdiskusi di depan kelas, sekarang Saya tidak pernah melihat lagi. Ada apa? Saya sempat bertanya-tanya. Bertanya untuk jawaban yang mustahil Saya dapatkan. Terkadang saat berjalan ke kantin, Saya masih sempat melihat wajah Siswi S yang sedang duduk di dalam kelasnya. Duduk dan berdiskusi dengan teman-teman dekatnya. Sepertinya frekuensi pertemuan Siswi S dan Cowok J berkurang, gumam Saya.

Sejauh itu Saya masih berasumsi hubungan mereka baik-baik saja (*pemerhati hubungan orang). Mungkin mereka telah merencanakan jadwal pertemuan mereka, berpikiran positif. Kembali Saya berikrar untuk melupakan semuanya dan Saya harus tetap berjalan seperti biasanya.

Masih akan berlanjut…

Share :
  • Print
  • Digg
  • StumbleUpon
  • del.icio.us
  • Facebook
  • Twitter
  • Google Bookmarks
  • Google Buzz
  • RSS
  • Technorati
  • Add to favorites
  • email
  • MySpace
  • Plurk

Tentang Isaninside - Muhammad Ihsan Zul

Isaninside - Muhammad Ihsan Zul, Seorang suami dari Rizka Irma Septiani dan bekerja sabagai Dosen di Politeknik Caltex Riau (PCR). Lulusan Pendidikan Teknik Elektronika FT UNP [Padang] tahun 2009 dan menyelesaikan pendidikan Pasca Sarjana di UGM tahun 2012. Ilmu untuk dibagi bukan dipamerkan. Let's Share!
Bookmark and Share Subscribe

Belum ada komentar... Jadilah komentator pertama!

Tinggalkan komentar