Pendekatan Alternatif dalam Pengembangan Basis Data

Pendekatan Alternatif dalam Pengembangan Basis Data dalam sebuah Sistem Informasi

(Base on Modern Database Management book, by Jeffrey A. Hoffer, Mary B. Presscott and Fred R. McFadden. Eighth Edition | 2007)

Strategi pengembangan sistem informasi seringkali difokuskan dalam kajian basis data (database). Dimana pada kajian ini konsentrasi pengembangan hanya difokuskan dalam pendefinisan (perencanaan tabel dan atribut), desain dan implementasi sebuah database. Padahal, pengembangan database harus dilakukan sejalan dengan pengembangan tahapan sistem informasi (inti di dalamnya adalah pengembangan database). Sehingga sistem informasi yang dirancang, diproyeksikan untuk dapat menghasilkan sebuah sistem yang secara menyeluruh bekerja dengan semua aspek/tahapan yang membangunnya. Tahapan tersebut seperti identifikasi proyek sistem informasi,  perencanaan (planning), analisis, konsep perancangan, perancangan fisik, implementasi dan pemeliharaan sistem informasi.

Terdapat dua pendekatan alternatif yang dapat digunakan dalam pengembangan basis data dalam sebuah proyek perancangan sistem informasi. Kedua pendekatan tersebut adalah :

  • System Development Life Cycle (SDLC)

Pendekatan ini dikenal dengan pengembangan sistem secara tradisional. Model pendekatan ini dilakukan secara rinci dan direncanakan dengan baik. Pola pendekatan ini membutuhkan waktu yang lama untuk dapat menghasilkan sebuah sistem. Dimana setiap tahapan yang akan dilakukan harus memandang tahapan sebelumnya. Apakah tahapan tersebut telah sesuai dengan syarat dan permintaan yang telah ditetapkan oleh tahapan sebelumnya. Jika tahapan tersebut belum memenuhi permintaan tersebut, maka proyek belum bisa dilanjutkan ke tahapan selanjutnya. Siklus ini berlaku untuk semua tahapan. Proses inilah yang mengakibatkan lamanya waktu yang dibutuhkan untuk dapat menghasilkan sebuah sistem yang benar-benar bisa diimplementasikan. Sehingga pendekatan SLDC biasanya digunakan untuk proyek jangka panjang. Pendekatan ini mengharapkan tidak terjadinya perubahan kebijakan, tujuan, dan identifikasi sebuah proyek secara signifikan. Jika terjadi perubahan pada tahapan tertentu (yang telah diselesaikan), maka tahapan SDLC harus dimulai lagi dari awal. Di sesuaikan dengan kebutuhan baru yang ditetapkan.

Tahapan yang dilakukan dalam pendekatan SDLC adalah :

  1. Project Identification and Selection, dimana pada tahap ini dilakukan pemahaman tingkat awal terhadap sebuah usulan proyek. Database dirancang pada tahap Enterprise (tahap awal, seperti cakupan konten secara umum, gambaran umum data, diagram hubungan antar entitas (secara major/umum dan tidak detil), deskripsi masing-masing entitas, dan aturan/rule)
  2. Project Initiation and Planning, dimana pada tahap ini dilakukan pendefinisian kebutuhan spesifik sebuah proyek (mengacu pada pemahaman awal). Database dirancang dalam bentuk pemodelan secara konseptual seperti penentuan jenis EER diagram, dan ER diagram.
  3. Analisis, merupakan proses penganalisaan model data secara mendetil. Analisis ini mengindentifikasi semua data-data proyek yang akan diolah di dalam sistem. Rancangan database dapat berupa pendefinisian semua atribut, pendataan kategori data, gambaran hubungan antar entitas, dan penentuan hubungan antar entitas, serta penentuan masing-masing ketetapan/aturan kelompok data.
  4. Logical design (desain logika). Desain pemodelan data konseptual yang harus diubah menjadi pemodelan data logika. Dimana data ini akan diimplementasikan ke dalam database (model data logika).  Pada proses transformasi ini dapat terjadi kombinasi dan pengintegrasian model data konseptual menjadi model data logika. Keadaan ini memungkinkan terjadinya proses penambahan informasi yang dibutuhkan selama dilakukannya perubahan desain model data logika. Dalam aplikasinya, pada tahap inilah proses normalisasi database dilakukan.
  5. Physical Design (desain fisik). Pada proses ini terjadi penentuan teknik DBMS (Database Management System) yang akan diimplementasikan. Desain ini melibatkan semua aspek fisik teknologi database, seperti program, perangkat keras, sistem operasi dan jaringan komunikasi data (Internet, LAN, and so on)
  6. Impelementation Database. Pada tahap ini, desainer/perancang melakukan uji coba terhadap sistem. Ujicoba meliputi instalasi sistem, pelatihan untuk users, uji coba users, pencetakan dan tampilan hasil dan lain sebagainya.
  7. Maintenance. Pada tahap maintenance terjadi perubahan dan perkembangan database. Dimana perancang akan melakukan penambahan, penghapusan, serta modifikasi struktur database. Proses ini disesuaikan dengan kondisi dan perubahan permintaan serta tujuan proyek. Selain itu, proses perbaikan terhadap error juga dilakukan, sehingga dapat meingkatkan kecepatan pengunaan dan akses data.
  • Prototyping

Pendekatan prototyping memungkinkan pengembangan sistem secara cepat. Pendekatan ini juga dikenal dengan nama Rapid Application Development (RAD). Proses pembuatan prototipe data dapat dilakukan pada saat pendefinisian data. Dimana proses identifikasi dan inisalisasi tidak dilakukan secara mendetail. Prototipe bisa saja dihasilkan tanpa harus melakukan analisis yang mendalam terhadap semua proses yang akan dilalui. Prototipe mengenal adanya proses revisi dan perbaikan. Setiap perubahan yang terjadi terhadap perencanaan perancangan dapat disesuaikan kembali dengan jalan melakukan revise dan enhance prototipe itu sendiri. Selama tujuan masih belum tercapai, atau selama masalah masih belum diselesikan, selama itu pula sistem menunggu perbaikan dan pengembangan. Hingga tujuan tercapai, dan masalah diselesaikan, maka prototype bise diterapkan dan diubah menjadi sebuah sistem yang siap untuk digunakan. Lebih fleksibel jika dibandingkan dengan model pendekatan SDLC. Prototyping dilakukan melalui tahap berikut ini.

  • Identity problem, pada tahap ini dilakukan analisis kebutuhan proyek dan pemodelan tahap awal sebuah data
  • Develop Initial Prototype. Setelah kebutuhan dirinci dan dijelaskan, maka dilakukan desain pemodelan data logika. Dimana pada tahapa ini proses analsis kebutuhan di spesifiukasikan secara rinci.
  • Physical Database Design and Creation. Pada tahap ini terjadi pendefinisian isi database lanjutan ke dalam DBMS. Selain itu, pada tahap ini juga terjadi desain program yang melakukan pemrosesan data.
  • Database Maintenance. Pada tahap ini dilakukan proses analisis database untuk menyesuaikannya dengan aplikasi-aplikasi yang dibutuhkan. Pada tahap ini juga dilakukan proses perbaikan terhadap error yang muncul selama prototype diimplementasikan. Perbaikan terhadap error ini dapat terjadi berulang kali hingga akhirnya tercipta sebuah prototype yang sesuai dengan harapan atau tujuan organisasi.
  • Implementation. Merupakan tahap penerapan Prototype.
  • Convert to Operational System. Merupakan proses akhir dari perancangan. Proses ini adalah kelanjutan dari tahapan Implementasi. Proses pembuatan sistem operasi dilakukan dengan mengkonversi prototype yang telah diimplementasikan. Hasil implementasi tersebut mengindikasikan kalau model tersebut layak untuk dijadikan sebuah sistem yang siap digunakan.

Semua tahap yang terjadi pada sistem prototype, memungkinkan dilakukannya perbahan tanpa memperhatikan secara detil permintaan dari proses sebelumnya. Sehingga pengembangan tahap in dapat dilakukan dalam waktu yang relatif lebih singkat jika dibandingkan dengan model pendekatan SDLC.

Inti bahan ini di dapat dari perkuliahan Matrikulasi Basis Data S2 Teknik Elektro UGM, Konsentrasi SKI. Modifikasi dan penyampaian ulang oleh M. Ihsan Zul. Dosen Pengampu Mata kuliah adalah Ibu Ir. Wahyuni, M.Sc.

(Silahkan komentari ataupun koreksi)

Isaninside-Yogyakarta, September 2010

Share :
  • Print
  • Digg
  • StumbleUpon
  • del.icio.us
  • Facebook
  • Twitter
  • Google Bookmarks
  • Google Buzz
  • RSS
  • Technorati
  • Add to favorites
  • email
  • MySpace
  • Plurk

Leave a Reply

5 thoughts on “Pendekatan Alternatif dalam Pengembangan Basis Data”