Home » Activities, Opini » Antara Lobi dan Skill

Banyak cara yang dilakukan untuk mengaktualisaikan diri. Ada yang berprestasi (skill),  ada yang berorganisasi, bahkan ada yang melobi.

Jika penghargaan yang diterima memang pantas untuk kita, mengapa menolaknya? Bagaimana mengukur tingkat kepantasan ini? Silahkan tanyakan pada hati nurani masing-masing.

Nah bagaimana jika kita memaksakan kepantasan itu? Barangkali ini bisa menzholimi orang lain. Coba pikirkan orang lain yang sepantasnya menerima penghargaan itu. Apakah ini membuat kita bangga?

Saat mengenyam pendidikan S1, saya pernah menghadapi situasi ini. Bahkan mungkin saya juga pernah terjebak dengan pertanyaan ini. Apakah saya layak atau tidak? Astaghfirullahhal’azim. Tidak sedikit mahasiswa yang memiliki sifat dan kepribadian seperti ini. Jika tidak cepat-cepat bertobat, mungkin kita akan digiring ke lubang yang lebih jauh dan lebih dalam. Lubang yang membawa kita terbiasa menerima sesuatu yang seharusnya bukan untuk kita. Tidak pantas untuk kita.

Sebagai seorang mahasiswa, barangkali kita memiliki ukuran tertentu untuk menyatakan kelayakan diri kita. Sebelum akhirnya penilaian itu dilakukan oleh orang lain. Seperti mengukur kemampuan, mengukur diri dan bahkan mengukur skill secara keseluruhan. Tapi ukuran ini mungkin bisa ditanggulangi dengan cara melobi. Melobi dengan cara yang mungkin (maaf) “menjilat”.

Kemampuan berbahasa dan mempengaruhi pola pikir orang lain merupakan ilmu yang tidak mudah di dapat. Banyak orang yang berhasil dengan menggunakan kemampuan berbahasan ini. Kemampuan yang menuntun orang menuju tujuan tertentu dengan cara yang elegan dan mudah untuk diterapkan. Seperti motivator ulung. Dengan kemampuan berbahasa yang tinggi bisa menyihir orang lain untuk berubah, berubah menuju tujuan tertentu dengan cara yang positif tentunya.

Kemampuan berbahasa ini sangat ditunjung oleh tingkat pengetahuan seseorang. Seseorang yang ahli dibidang tertentu dan bisa menyampaikan ilmu itu kepada orang lain akan berguna bagi orang lain.  Apalagi ilmu itu sangat susah jika dipelajari sendiri, tapi dengan keahlian penyampaian yang dimiliki orang tersebut, ilmu itu akan terasa lebih mudah diterima. Mudah diterima dan bisa dimengerti dengan cepat.

Keadaan tersebut hanya terjadi jika kita selalu mengasah kemampuan kita, minimal rajin membaca. Apa jadinya jika kita tidak mengerti apa-apa dibidang itu? Tetapi masih memaksakan diri untuk menyampaikannya? Barangkali kekecewaanlah hasilnya.

Dalam kasus tertentu, kemampuan berbahasa cenderung dilakukan berbentuk lobi. Lobi-lobi yang berujung kepada kedekatan emosional. Kedekatan emosional lebih ditonjolkan. Bahkan sangat terkesan Nepotisme. Sehingga kedekatan emosional ini mempengaruhi terjadinya pengampilan kebijakan. kebijakan yang tidak pantas. Apakah kegiatan lobi berlandaskan kedekatan emosional salah? Berarti negatif? Bagi saya, itu tidak selalu negatif. Asalkan keputusan tersebut diberikan kepada orang yang benar-benar memiliki kemampuan dan skill dibidang itu. Mengapa mempermaslahkannya bukan?

Tapi akan sangat ironis jika diberikan karena kedekatan emosioanl dan kesuksesan melobi tanpa memperhatikan dan mengukur diri kita. Jika kita memang mampu dan pantas mencobanya, apa salahnya bukan? Pertanyaan ini akan muncul setelah anda mengukur dan menimbang-nimbang apakah kita sanggup atau tidak. Kalau hati nurani berkata sanggup, berarti ini adalah peluang bagi kita. Jangan lepaskan! Tetapi jika ini memang bukan bidang dan kemampuan kita, mengapa kita memaksakannya? Akan lebih sadis lagi jika kita sadar ada orang yang lebih berkompeten dibanding diri kita.

Janganlah bangga dengan kedekatan emosional dan kemampuan lobi yang dimiliki jika tidak dibarengi dengan kemampuan yang kita miliki. Jika hati nurani berkata ya, jangan lepaskan. Dan jika hati berkata tidak, silahkan berikan kepada orang yang lebih pantas.

Asahlah ilmu, tunjukan kualitas kita melalui skill dan kemampuan, dan jangan lupa pelajari cara menyampaikan ilmu itu kepada orang lain. Aktualisasikan diri dengan kemampuan dan skill dibidang yang anda sukai! Jangan berpatokan kepada lobi dan kedekatan emosional!

Isaninside-2010

Share :
  • Print
  • Digg
  • StumbleUpon
  • del.icio.us
  • Facebook
  • Twitter
  • Google Bookmarks
  • Google Buzz
  • RSS
  • Technorati
  • Add to favorites
  • email
  • MySpace
  • Plurk

Tentang Isaninside - Muhammad Ihsan Zul

Isaninside - Muhammad Ihsan Zul, Seorang suami dari Rizka Irma Septiani dan bekerja sabagai Dosen di Politeknik Caltex Riau (PCR). Lulusan Pendidikan Teknik Elektronika FT UNP [Padang] tahun 2009 dan menyelesaikan pendidikan Pasca Sarjana di UGM tahun 2012. Ilmu untuk dibagi bukan dipamerkan. Let's Share!
Bookmark and Share Subscribe

2 Responses to “Antara Lobi dan Skill”

  1. kalau kejadiannya seperti itu apakah memang lobi sama dengan negosiasi,,, soalnya dalam negosiasi di komunikasi bisnis sangat tidak dapat terpisahkan dengan lobi.

    Reply
    • To : opang

      Saya setuju dalam konteks bisnis, Jual beli harus ada ijab dan kabul, dan itu memang dibenarkan hingga tercapai kesepakatan.. Tapi bukan dalam hal “penjilat” hehehehehe… Thx buat komentar dan kunjungannya

      Reply

Tinggalkan komentar