Home » Activities » Ulang Tahun yang Berlalu

banner-isaninside-blue-smallKata-kata itu seakan-akan membawa saya kembali  ke era kanak-kanak. Era yang telah berlalu sekitar 15 tahun yang lalu. Saat itu saya tinggal di sebuah Kecamatan yang memiliki hawa sejuk, sesejuk kibasan embun yang keluar dari rongga-rongga freezer kulkas.

Daerah itu bernama Desa Koto Hilalang yang terletak di Kecamatan IV Angkat Candung Kabupaten Agam. Saat itu saya dan keluarga tinggal di sebuah rumah kecil. Dinding rumah itu terbuat dari papan yang telah rapuh. Rapuh menahan kerasnya perubahan musim, musim panas dan musim hujan. Di beberapa sisi hanya tersisa warna cat hitam yang masih menempel pada papan itu. Sisa-sisa cat itu masih mampu menegaskan bahwa rumah itu masih layak untuk ditempati. Di rumah inilah saya pertama kali merasakan perayaan hari ulang tahun saya.

Pada saat itu, Perayaan ulang tahun telah menjadi tradisi di keluarga saya. Perayaan ini dihadiri oleh semua anggota keluraga, ada 3 orang abang, 1 orang uni dan Papa Mama. Perayaan ini bukanlah perayaan yang bertaburan hadiah. Tapi perayaan kecil yang sangat berkesan bagi saya.

Perayaan itu dilakukan setelah sholat maghrib berjamaah. Tepatnya pada saat makan malam bersama. Perbedaan makan malam ini dengan makan malam biasa hanya terletak pada jenis sambalnya. Jika pada saat biasa kami makan seadanya, tapi pada saat  ulang tahun, hidangan istimewa pasti tersedia di meja makan. Hidangan-hidangan tersebut bukanlah hasil racikan siapa-siapa, tapi 100% murni dari jari-jari mama saya. Nah, Apakah Hidangan itu?

Hidangan itu adalah panggang ayam yang diberi kuah. Ayam itu tidak dipotong-potong seperti sambal biasa yang ditemui di rumah makan, tetapi terhidang utuh. Mulai dari paha hingga leher, bagian kepala dan isi perut tidak disertakan di dalam panggang ayam tersbut. Hmmmm alangkah lezatnya makanan itu.

Lezat karena pada saat itu panggang ayam termasuk makanan yang langka saya temui. Keadaan ini akan sangat berbeda jika makanan tersebut merupakan menu sehari-hari keluraga saya. Syukur Alhamdulillah, saya hanya dapat menemui makanan tersebut pada saat perayaan ulang tahun saja. Karena jika makanan tersebut sudah merupakan menu sehari-hari, maka makanan itu tidak akan menjadi makanan yang sangat spesial. Bisa-bisa menjadi makanan yang sangat membosankan karena telah dikonsumsi sehari-hari. Itulah hikmah hidup keluarga kecil yang penuh harapan seperti keluarga Saya pada saat itu.

Di akhir perayaan, Papa pasti memberi sebuah hadiah yang sangat bermanfaat bagi anak-anaknya. Saat itu saya menerima sebuah hadiah kecil yang dibungkus kertas kacang padi. Ukuran hadiah itu kira-kira 20 x 20 cm. Setelah perlahan dibuka, ternyata berisi seperangkat spidol dengan warna-warna yang berbeda. Syukur Alhamdulillah saya menerima hadiah itu dengan hati yang bahagia.

Biasanya setelah menerim hadiah tersebut, saya selalu menyibukkan diri dengan menggambar berbagai macam gambar. Dari gambar pemandangan hingga gambar saudara-saudara saya yang sedang beraktifitas. Termasuk beberapa gambar abstrak yang sangat tidak jelas bentuk dan artinya. Tetapi bisa dikategorikan ke dalam jenis gambar abstrak. Hahahahah, itulah karya hancur-hancuran saya. Kebahagiaan selalu menemani saya pada saat itu.

Barangkali hadiah spidol itu telah membimbing saya untuk lebih mengenal dunia desain grafis dan mempraktekkannya. Hingga saya menyukai dan sangat tertarik untuk mempelajarinya. Bimbingan itu jauh tertanam beberapa tahun yang lalu, dan telah membawa saya untuk mengenal dunia desain secara perlahan. Walaupun itu hanya untuk diri saya dan sebagian kecil untuk orang lain.

Hingga saat itu, fenomena perayaan ulang tahun tidak lagi saya rasakan di lingkungan keluraga. Perayaan tidak dilakukan karena berbagai macam pertimbangan. Pertimbangan itu antara lain karenabeberapa anggota keluarga tidak  tinggal lagi dengan Papa dan Mama. Sekarang hanya Saya yang tinggal di rumah menemani Papa dan Mama. Saudara-saudara yang lain telah pindah dan berdomisili di daerah kerja mereka masing-masing. Sehingga jika tetap memasak panggang ayam, yang akan memakan tidak ada. Jangan-jangan malah menimbulkan kesan mubazir terhadap makanan itu.

Sekarang, perayaan ulang tahun Saya alihkan kepada teman-teman saya. Tidak lagi dilingkungan keluarga…

Kenangan yang sangat mengesankan bagi saya..

Share :
  • Print
  • Digg
  • StumbleUpon
  • del.icio.us
  • Facebook
  • Twitter
  • Google Bookmarks
  • Google Buzz
  • RSS
  • Technorati
  • Add to favorites
  • email
  • MySpace
  • Plurk

Tentang Isaninside - Muhammad Ihsan Zul

Isaninside - Muhammad Ihsan Zul, Seorang suami dari Rizka Irma Septiani dan bekerja sabagai Dosen di Politeknik Caltex Riau (PCR). Lulusan Pendidikan Teknik Elektronika FT UNP [Padang] tahun 2009 dan menyelesaikan pendidikan Pasca Sarjana di UGM tahun 2012. Ilmu untuk dibagi bukan dipamerkan. Let's Share!
Bookmark and Share Subscribe

2 Responses to “Ulang Tahun yang Berlalu”

  1. monalisa afrida 23/06/2012

    One funny thing about birthday is…

    Selalu berulang tiap tahun.

    Jadi ketika seseorang memberitahumu “besok adalah hari ulang tahunku” kau bisa menjawab “sobat, aku sudah mendengar kau berkata seperti itu sebanyak 24 kali dalam hidupku ”

    Ha ha ha…
    But, nice posting Ihsan

    Reply
    • to Monalisa

      Hahaha, sekarang yang ke 25 kalinya mbak. malah menunggu untuk 26.. Thanks udah berkunjung mbak..

      Reply

Tinggalkan komentar