SD dan Kecil Ku di Ampang Gadang

isanzSaya dilahirkan ketika bapak sibuk mencari nafkah untuk menghidupi keluarga kami. Terlahir di simpang candung agam kecamatan IV angat Candung agam, melalui tangan seorang bidan 22 tahun silam.

Saya tidak hidup dalam keadaan kaya raya dan berkecukupan, namun semangat orang tua lah yang membuat kami hidup menuju kebahagiaan batin dan penuh kebersamaan. Saya memiliki 4 orang saudara, 3 orang laki-laki dan seorang perempuan. Menurut urutan, saya adalah anak terakhir dari silsilah keluarga.

Sejak kecil, saya dan para saudara telah biasa hidup di perantauan. Walaupun tidak jauh dari kampung asal kedua orang tua (Desa Maek Kec.Bukik Barisan 50 Kota). Kerasnya kehidupan telah membuat keluarga saya mampu menahan pahit dan getirnya perantauan.

Tempat awal  berdomisili adalah desa Koto Hilalang yang terletak di kec. IV Angkat Candung Agam, di pinggir jalan utama Payakumbuh-Bukittinggi. Di desa itulah saya  menyadari kalau saya pernah menjalani masa kecil yang berbahagia. Umur sekitar  4-5 tahun, ketika pernah bersekolah TK di sana. Tinggal di sebuah rumah yang berdinding kayu dengan lantai yang selalu berbunyi ketika di injak. Hah, itu adalah kenangan yang sangat mengharukan.

Kepindahan pertama ditandai dengan permasalahan antara keluarga dengan tetangga berdekatan rumah. Karena merasa tidak memungkinkan, Orang tua memutuskan untuk pindah mencari kontrakan baru yang lebih tenang dan kondusif.

Akhirnya Kami pindah ke sebuah desa yang jauh lebih baik dan menyenangkan. Desa Ampang Gadang, yang terletak di Kecamatan IV Angkat Candung Kabupaten Agam. Desa ini terletak di simpang Tanjung Alam ke dalam. Bagi yang biasa melewati simpang tanjung alam, pasti mengenal Desa Ampang Gadang. Desa yang sangat terkenal dengan daerah Konveksinya. Rata-rata pekerjaan penduduk di sana adalah menjahit berbagai macam pakaian. Sangat berbeda dengan pekerjaan kedua Orang tua saya, Pegawai Negari Sipil, Guru Lebih tepatnya.

Kontrakan yang di sewa memang lebih baik jika dibandingankan dengan kontrakan sebelumnya. Kontrakan tersebut berupa rumah dengan 3 kamar yang dikelilingi semen dengan cat dinding putih. Di sana-sini terdapat beberapa jendela yang menghiasinya. Tempat tinggal yang luar biasa. Di tempat itulah cerita pendidikan saya benar-benar di mulai.

Umur 5 tahun, saya dititipkan di sebuah Taman Kanak-Kanak yang terletak di dalam kampung yang bersebelahan dengan SD dan TPA. Serumpun Mekar, Itulah nama TK saya. Bangga Rasanya bisa bersekolah di sana. Berbekal sebuah tempat air dan kantong makanan, pendidikan pun dimulai. Banyak teman-teman yang berjuang bersama saya. Jarak tempat tinggal mereka dengan sekolah sangat beragam, ada yang  100 m, 3 Km dan bahkan ada yang 5 Km dari TK tempat kami belajar.  Karena memang Serumpun Mekar memang satu-satunya TK yang ada di Ampang Gadang Pada saat itu. Beberapa nama teman yang masih saya ingat adalah Peri (anak Aia Tabik), Jeri (anak “lupa saya”), Uul (Anak dalam), Rika (anak Kuntun), Riki (anak dalam), Henda (anak Kuntun) dan yang lainnya saya lupa. Banyak ilmu yang saya pelajari bersama rekan-rekan di sana. Hmm masih segar dalam ingatan

Saudari saya selalu menjadi teman di saat jadwal TK berakhir, dan di saat kami pulang bersama. Sesampai dirumah, biasanya saya selalu menghabiskan hari dengan bermain-main dengan saudara dan teman-teman dekat rumah. Banyak hal yang telah kami lakukan, mulai dari ekspedisi ke sawah-sawah, main sepeda ke desa tetangga, hingga main permainan tradisional kampung kami.

Setelah menamatkan TK, saya melanjutkan Sekolah Dasar ke bangunan tetangga TK Serumpun Mekar. Iya, itulah SDN 29 Ampang Gadang, Sekolah tempat saya memperolah ijazah Sekolah Dasar. Kelas 1 saya lalui dengan bermacam-macam murid dari berbagai macam penjuru desa. Karena jumlahnya banyak, kelas 1 di bagi menjadi 2 shift, shift pagi dan shift siang. Dari kelas itulah saya mulai mengetahui dan mempelajari BACA TULIS.

Masih segar di dalam pikiran saya, ketika kelas kami di kelompokkan menjadi 2 bagian, kelas 1A dan 1B, hingga pengelompokkan ini berakhir di Kelas 6 SD. Selama SD, saya menghadapi berbagai masalah. Baik masalah pendidikan ataupun masalah pertemanan. Masalah pendidikan sering muncul ketika saya gagal menyelesaikan tugas-tugas yang diberikan oleh guru-guru sekolah, termasuk kejadian ketika semua kelereng yang ada di dalam kantong saya di sita oleh Wali kelas. Huh sangat mengesalkan, namun itu telah menjadi kenangan.

Sebagai anak yang tidak pintar dan tidak terlalu kurang (-pintar), saya selalu berusaha mendapatkan nilai-nilai yang bagus di sekolah, namun prestasi itu memang seperti ombak. Adakalnya naik dan sering kalanya turun (hehe).  Saya masih mengingat nama Teman yang selalu rangking  1 dikelas B (lokal saya). Henda Putra, itulah anak cerdas teman TK saya. Henda memiliki postur tubuh kecil, dan lincah dalam bergerak. Sampai-sampai Henda digelari dengan nama “balam” (burung Balam). Hahahahahah itu adalah kenangan saya.

Menurut pandangan saya, Henda termasuk anak yang memiliki kecerdasan yang luar biasa pada dua bagian otaknya. Selain pintar Belajar, Henda juga seorang master menggambar dan melukis. Telah banyak prestasi yang ditorehkannya. Seingat saya, dia pernah menerima hadiah mesin jahit atas semua prestasi yang pernah diraihnya. Informasi terakhir yang saya dengar, Henda berkuliah di ITB (Institut Teknologi Bandung) dan jurusannya tidak pernah saya ketahui sampai sekarang.

Salah satu masalah pertemanan yang pernah saya hadapi di sekolah SD adalah dikotomi antar kelas, A dan B. Masalah itu sering timbul ketika kelas A dan Kelas B saling perang dingin dalam kegiatan olah raga yang kami lakukan. Yaitu main bola kasti. Terkadang masalah itu sering membuat hubungan bilateral (hehehe)antara A dan B menjadi buruk dan semakin buruk. Akhirnya penyelesaian masalah itu berakhir ketika kami menjalani kelas 6 Bersama-sama, tidak ada pemisahan kelas lagi.

Hmmm, akhirnya jadwal pulang SD saya lalui denga berjalan kaki ke rumah saya di daerah Kuntun. Berdekatan dengan rumah Henda. Sepulang sekolah anak-anak SD biasanyaharus mengikuti pendidikan Alquran di TPA. Dengan semangat yang membara, akhirnya saya diregistrasikan ke TPA tersebut oleh orang tua saya.

Tahun pertama TPA saya lalui dengan semangat yang menggebu-gebu. Datang tepat waktu dan berusaha untuk berbuat baik. Namun semangat itu tidak bertahan lama. Banyak alasan yang membuat saya harus berhenti di TPA. Alasan-alasan itu adalah (1) Uang Rp. 100 tidak cukup bagi konsumsi saya ketika belajar di TPA, sehingga saya sering kehausan di TPA. Kadang saya sangat iri dengan teman-teman sebaya yang memiliki jajanan lebih di banding saya. Hal ini memang tidak dapat disesalkan, karena ekonomi keluarga memang begitu adanya. (2) banyak godaan dari teman bermain dekat rumah, sehingga saya tergoda dan rela meninggalkan TPA. Godaan tersebut datang dalam berbagai bentuk, seperti

  1. main layangan,
  2. main sepeda,
  3. berpetualang di sawah-sawah belakang rumah,
  4. memanjat pohon cemara,
  5. main gambar-gambar
  6. kelereng
  7. kertas rokok
  8. Panah-panahan
  9. Kasti
  10. Skateboard (keren)
  11. dll

Memang sangat mengasyikan, sebut Saja, Sdr. Romi (Tax Collector Permata BANK, Jakarta) adalah teman terbaik saya ketika melakukan aksi-aksi tersebut.. Well terima kasih Romi. (3) saya memiliki masalah khusus dengan anak-anak dalam (anak-anak yang tinggalnnya dekat dengan TPA), terkadang saya merasa takut ketika di gertak oleh anak-anak itu, dan berakhir dengan nyali yang ciut, untuk TPA I’m Scared..

Kenangan terburuk TPA itu adalah ketika saya harus registrasi sebanyak lebih kurang 3 Kali di TPA tersebut. Sangat merepotkan orang tua saya, namun hasilnya tetap sama. Saya tidak pernah khatam Alquran di sana. Dan khatam Al-Quran saya selesaikan ketika TPA di Kampung saya, desa MAEK.

Salah satu bagian paling indah ketika Setiap pagi dibangunkan dan selalu disiapkan air panas untuk mandi kami (5 bersaudara). Air panas yang mengalir di tubuh bagaikan kenikmatan rasa yang tidak bisa dilupakan, Karya Cipta Sang Khalik.

Sangat menyenangkan ketika berjalan menyusuri embun pagi untuk sampai di SD tercinta. Semua minyak yang tertidur bahkan tidak mengetahui kapan kami meninggalkan rumah. Kapan kami mulai berjalan untuk mencapai ilmu yang akan kami jadikan pegangan di hari depan. Semua itu saya lewati di Ampang Gadang tercinta.

Akhir kelas 6 SD merupakan kesedihan yang sangat luar biasa. Saya dan keluarga HARUS PINDAH. Sebab kepindahan kami sangat bertolak belakang dengan kejadian di desa Koto Hilalang. Jika dulu kami pindah karena tidak di inginkan, maka sekarang kami pindah karena Orang tua saya sangat diinginkan Pemerintah Provinsi Sumatera Barat.

Akhir kenangan Ampang Gadang telah selesai ketika saya tidak pernah kembali lagi ke desa itu. Hampir 8 tahun lamanya. Semua kenangan hanya tinggal kenangan, kesibukan di padang membuat saya lupa semuanya, lupa suasana Ampang Gadang, dan lupa dengan teman-teman bermain, SD dan teman TK. Saya sempat merasa sangat berdosa ketika tidak pernah mengucapkan selamat tinggal kepada teman-teman saya. Saya sangat menyesalinya.

Sesekali saya pernah mengunjungi Ampang Gadang, tahun 2007 silam. Namun semua itu telah berbeda, teman-teman yang dulu ada, sekarang entah kemana. Hanya tinggal beberapa teman yang telah sibuk bekerja. Namun tawa, canda dan bicara masih seperti dulu, seperti kami 8 tahun yang lalu.

Hiruk pikuk SD masih mengiang di telinga saya. Ilmu-ilmu yang di ajarkan guru-guru SD masih menjadi pendidikan yang sangat berharga dalam kehidupan saya. Teman-teman SD yang selalu menemani saya bermain merupakan sahabat-sahabat sejati yang akan saya kenang. Semuanya kembali segar di ingatan saya.

Semoga kita bisa bertemu kembali SAHABAT. Muhammad Ihsan Zul SDN 29 Ampang Gadang 10 tahun yang lalu.

Share :
  • Print
  • Digg
  • StumbleUpon
  • del.icio.us
  • Facebook
  • Twitter
  • Google Bookmarks
  • Google Buzz
  • RSS
  • Technorati
  • Add to favorites
  • email
  • MySpace
  • Plurk

Leave a Reply

6 thoughts on “SD dan Kecil Ku di Ampang Gadang”

  1. Aku juga merasakan kehidupan seperti itu dek, tapi aku mau protes kenapa kamu lupa cerita waktu uni disuruh ma2 jagain kamu pulang TK.Uni msh ingat, kamu diajakin uni belajar dikelas tentunya waktu sudah dikasih izin sama bu guru(buk desi).Lucunya kamu malah dicium sama buk desi karena gemess liat kamu.he.he..kamu malu dan lansung tersapu-sapu malu, ups…tersipu2 malu maksudnya….tapi waktu kecil dulu kamu memang bikin menggemaskan sekali.. masih banyak sih cerita tentang kamu… tapi uni takut cerita banyak…takut kamu malu banget sama cewek kamu…. ^_^ …………

  2. mantaaaaaaap…..an!!woooow…10 tahun yang lalu…?g terasa ya,,,rasanya baru kemArin tamat SD,tapi kok bapak/ibu guru nya ga dimasukin…?biar seru tambahin aj,Jd lebih komplit…hehehe kayak nasi goreng aj,pas baca td wktu rasanya mundur k jaman SD dulu..
    ul baru tau klo an ndak sempat khatam qur’an di TPA, Kok bisa gitu an?khatam qur’an bukannya klas 5?ul juga baru ingat klo henda dulu dipanggil “balam” hehehe….
    disita ya kelerengnya…waduh lumayan juga tuch,butuh brp hari ngumpulin klereng sbyk it an…?
    tp top deh tulisannya….kpn2 nulis lagi ya,,,
    Amiiiiiin…mudh2an aj kt bs ngumpul lagi…

  3. oh iya sekarang ini saya merupakan pengurus drumband SD 29 Ampang gadang
    tapi kami punya kendala karena alat-alat drumband yang elum ada dan kami latihan hanya pakai kayu dan triplek jadi untuk itu tlg bantu kami dalam pencarian dana.teriama kasih
    hp. 085274418143

  4. assalmu’alaikum. wr wb
    Bapak merupakan salah satu alumni SD 29 Ampang Gadang Ya
    emang tamatan tahun berapa dan alamatnya dimana ya,
    klu bisa tlng hub saya ke no 085274418143, trims.